Pada 14 Februari 2026, di City Gallery Kota Tangerang Selatan, peluncuran buku puisi Manusia Algoritma karya Beni Satria tidak berlangsung sebagai seremoni literer biasa. Ia menjelma peristiwa estetik: buku diluncurkan melalui pertunjukan teater berjudul Puisintaksis, digagas oleh DoubleAB Project, disutradarai Ari Sumitro, dengan dramaturgi Andy Lesmana. Yang hadir bukan sekadar pembacaan puisi, melainkan rekonstruksi ruang batin penyair—sebuah kamar serba putih dengan tempat tidur di tengahnya, di mana puisi dilahirkan, dipertanyakan, dan dipertontonkan.
Puisintaksis: Struktur Bahasa, Struktur Eksistensi
Istilah Puisintaksis memadukan dua wilayah: puisi dan sintaksis. Sintaksis, dalam linguistik, adalah tata hubungan antar-unsur bahasa—bagaimana kata membangun kalimat, dan kalimat membentuk makna. Dalam pertunjukan ini, sintaksis melampaui ranah kebahasaan; ia menjadi metafora struktur eksistensial. Manusia, sebagaimana puisi, tersusun oleh relasi—oleh sistem, algoritma, data, memori, dan pengalaman.
Buku Manusia Algoritma bergerak pada tegangan antara subjek dan sistem. Manusia tidak lagi berdiri sebagai pusat otonom, melainkan sebagai entitas yang hidup dalam jaringan kalkulasi. Maka Puisintaksis menjadi upaya membongkar bagaimana struktur—baik bahasa maupun teknologi—mengonstruksi manusia. Pertunjukan ini menjadikan proses kreatif penyair sebagai laboratorium ontologis, tempat “aku” dirakit, diragukan, lalu dihadapkan pada dunia yang semakin algoritmik.

Dramaturgi Ruang: Kamar sebagai Metafora
Set panggung berupa kamar putih dengan tempat tidur menghadirkan simbolisme yang kuat. Putih bukan sekadar warna; ia adalah kemungkinan, kehampaan, sekaligus ruang penyingkapan. Tempat tidur menjadi locus kontemplasi—ruang antara sadar dan mimpi, antara tubuh dan bahasa.
Pertunjukan bahkan telah dimulai sebelum penonton menyadarinya. Aidan dan Ardia berbincang tentang puisi, perjalanan penyair, karya sastra, dan selingan patah hati di Hari Valentine. Percakapan itu tampak kasual, namun perlahan membangun kesadaran bahwa kehidupan sehari-hari pun memiliki dramaturginya sendiri. Ketika kemudian penonton digiring melalui lorong menuju ruang pertunjukan, terjadi pergeseran: dari realitas sosial menuju realitas estetik. Lorong itu menjadi ritus peralihan.
Kegaduhan awal yang diciptakan kedua aktor menegaskan strategi alienasi—mengguncang persepsi penonton agar sadar bahwa yang mereka hadapi adalah konstruksi. Kehadiran Boru sebagai pemandu galeri mempertegas dimensi meta-teatral: puisi diperlakukan sebagai artefak, kamar sebagai instalasi, dan penyair sebagai subjek yang diamati.

Tambahan elemen penting dalam pertunjukan ini adalah kehadiran Andrew sebagai aktor yang mempresentasikan diri sebagai “bayangan” sang penulis. Ia tidak berdiri sebagai karakter utuh, melainkan sebagai alter-ego, residu pikiran, atau gema batin yang tak selalu terdengar.
Secara dramatik, Andrew berfungsi sebagai representasi konflik internal: keraguan, kecemasan, bahkan kritik terhadap diri penyair sendiri. Jika tubuh penyair berada di atas kasur—diam, kontemplatif—maka Andrew bergerak sebagai proyeksi kegelisahan. Ia bisa muncul sebagai suara yang mempertanyakan makna puisi, sebagai refleksi terhadap dunia algoritmik, atau sebagai ironi atas romantisasi proses kreatif.
Dalam perspektif teater modern, kehadiran “bayangan” ini mengingatkan pada teknik doubling dalam dramaturgi psikologis—penggandaan tokoh untuk menampilkan dialektika batin. Ia juga memiliki resonansi dengan gagasan Antonin Artaud tentang tubuh sebagai medium intensitas, di mana konflik tidak selalu disampaikan melalui narasi linear, tetapi melalui gestur dan energi.
Dengan demikian, Andrew tidak sekadar aktor tambahan; ia adalah struktur reflektif dalam Puisintaksis. Ia membuat penyair tidak tunggal, melainkan terbelah—antara yang menulis dan yang mempertanyakan tulisan.

Partisipasi dan Pembongkaran Hierarki
Momen ketika lembaran puisi dibagikan kepada penonton menjadi titik pembalikan struktur. Penonton tidak lagi objek resepsi, melainkan subjek produksi makna. Sintaksis pertunjukan menjadi kolektif.
Strategi ini memiliki kedekatan dengan Teater Epik Bertolt Brecht, terutama dalam upaya membangun kesadaran kritis dan meruntuhkan ilusi dramatik. Ia juga beririsan dengan pendekatan Richard Schechner dalam environmental theatre, di mana batas antara aktor dan penonton dipertanyakan. Kesederhanaan set dan fokus pada intensitas aktor mengingatkan pada gagasan Jerzy Grotowski tentang poor theatre—teater yang memaksimalkan tubuh dan relasi, bukan kemewahan properti.
Namun Puisintaksis tidak sekadar mengadopsi metode; ia memodifikasinya untuk merespons konteks manusia yang hidup dalam struktur algoritmik.

Diskusi sebagai Ekstensi Pertunjukan
Pertunjukan ditutup dengan diskusi buku, namun diskusi itu sendiri menjadi bagian dari dramaturgi. Penyair tetap berada di atas kasur—seolah menegaskan bahwa proses kreatif tak pernah benar-benar selesai.
Rosida Erowati membaca puisi “Mencari Batu Nisan Ibu di Tengah Proyek Tol I dan II” sebagai benturan antara memori personal dan proyek pembangunan. Infrastruktur—tiang pancang, beton, aspal—menjadi metafora sistem yang menelan duka. Dalam kerangka Deleuze dan Guattari, kehilangan menjadi energi aktif; dalam perspektif Walter Benjamin, aku lirik tampil sebagai flâneur modern yang tersesat dalam labirin kota.
Sementara itu, Fani Mahandri membedah Manusia Algoritma melalui ontologi Martin Heidegger: manusia sebagai Dasein yang terasing dalam dunia teknologi. Teknologi bukan sekadar alat, melainkan cara dunia menyingkap diri—kadang dengan mengubah manusia menjadi data statistik.

Penutup: Peluncuran sebagai Peristiwa
Apa yang terjadi pada 14 Februari 2026 bukan hanya peluncuran buku. Ia adalah peristiwa estetik dan filosofis—sebuah momen di mana teks, tubuh, ruang, dan pikiran saling berkelindan. Dengan kehadiran Andrew sebagai bayangan, struktur pertunjukan menjadi semakin reflektif: penyair berdialog dengan dirinya sendiri, dan penonton menyaksikan pergulatan itu secara langsung.
Puisintaksis menjadikan peluncuran buku sebagai praktik performatif: membaca bukan lagi tindakan privat, melainkan tindakan kolektif dan politis. Di tengah dunia yang semakin terstruktur oleh algoritma, pertunjukan ini menawarkan ruang jeda—ruang untuk menyadari bahwa manusia bukan sekadar data, melainkan makhluk yang selalu mencari sintaksis baru bagi keberadaannya.

1 Komentar
Puisintaksis dan manusia algoritma sebagai elementer dramatik turgie pada masanya membawa penonton mengikuti irama permainan.
Secara simbolik menarik/mengajak penonton untuk turut serta dalam suara perjalanan kisahnya.