Oleh Husni Hamisi
(Penyair dan Penulis asal Ternate)
Sebuah manifesto keresahan tentang Venezuela, Amerika, dan zaman tanpa adab. –
Pagi yang kelabu disertai rintik dingin di awal tahun 2026 di ibukota, telah menjadi kebiasaan, saya acapkali mencari dan membaca berita tentang segala hal yang bertema “apokaliptik”. Penghancuran, perang, bencana alam dan sejenisnya. Bukan apa, ini menjadi bagian dari upaya saya untuk selalu mawas diri dan merawat “getar” dalam jiwa, bahwa segala sesuatu yang kita lihat, kita raba, kita alami, yang kelihatannya “normal-normal” saja hakekatnya mengandung simpul narasi dan eskalasi ke zaman dimana era manusia akan segera berakhir.
Setelah menemukan informasi pendek, yang dengan bangga diposting presiden Trump di sosial medianya, saya tidak langsung menelan seteguk panas kopi kapal api ke kerongkongan, saya membiarkan ia tergenang lebih lama, merendam lidah dan liang mulut saya, menikmati kepahitannya. Apakah “rasanya” dapat sedikit mengimbangi getir yang mulai merambat di hati saya.
Ada saat-saat dalam sejarah ketika sebuah peristiwa tidak berdiri sendiri, melainkan terasa seperti gema panjang dari sesuatu yang telah lama disiapkan. Penangkapan paksa seorang presiden yang masih menjabat sebuah negara oleh negara lain tanpa mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ini bukanlah sekadar episode konflik bilateral antara Amerika Serikat dan Venezuela yang telah berlangsung sekian tahun. Ini diibaratkan adalah titik puncak dari gunung es sejarah, yang bagian terbesarnya justru tersembunyi di bawah permukaan waktu. mari kita rewind dan menonton kembali beberapa fragmen dari scene kejadian yang telah terjadi.
Sejak Hugo Chavez mengambil jalur politik yang secara terang-terangan menantang dominasi Amerika Serikat di tahun 1999, Venezuela perlahan diposisikan bukan sekadar sebagai negara “bermasalah” oleh Wangsinton, tetapi sebagai simbol pembangkangan. Nasionalisasi infrastruktur minyak, penguatan peran negara terhadap sumber daya dari swasta asing, dan persekutuan dengan Cina serta Rusia menjadikan Venezuela bukan hanya ancaman ekonomi, tetapi ancaman potensial bahwa ada dunia yang mencoba hidup di luar tata kelola Barat harus di hancurkan. Apalagi negara ini terletak di halaman belakang rumah mereka.
Amerika, sebagai kekuatan hegemonik mulai memainkan orkestrasinya, mereka tidak bergerak dengan satu hentakan drum atau bas saja. Mereka memainkan irama panjang yang klasikal, sanksi ekonomi yang melumpuhkan, dukungan dana terhadap oposisi internal, kriminalisasi simbolik terhadap pemimpin, hingga penjatuhan vonis hukum secara in absentia kepada Maduro.
Semua itu membentuk satu cerita besar, bahwa rezim di Caracas bukan hanya keliru secara politik, tetapi jahat secara moral dan kriminal secara hukum. Ketika narasi sepihak itu diolah dengan mapan, maka tindakan ekstrem -bahkan dengan melanggar hukum internasional- dapat dipresentasikan sebagai keharusan etis dan wajib.
Di sinilah kita tiba pada pertanyaan paling mendasar, apakah hukum internasional masih hidup, atau hanya kerangka mayat berbau busuk?
Tanpa legitimasi PBB, tanpa pengakuan yurisdiksi universal yang sah, tindakan sepihak semacam itu secara terang melanggar prinsip kedaulatan negara. Namun dunia tidak lagi digerakkan oleh apa yang sah, melainkan oleh apa yang mungkin dilakukan tanpa konsekuensi. Hukum, dalam kondisi ini, menjadi lentur dan bahkan bisu di hadapan kuasa pemilik kepentingan kapitalisme.
Relasi ini tak bisa dilepaskan dari minyak dan Cina itu sendiri. Venezuela menyimpan cadangan minyak terbesar di dunia. Beijing membutuhkan energi untuk menopang mesin ekonominya yang menggurita di setiap belahan dunia. Amerika melihat setiap aliansi energi di luar kendali korporasinya sebagai ancaman strategis. Maka konflik yang terjadi ini bukan sekadar soal demokrasi atau HAM saja, melainkan soal siapa yang menguasai urat nadi peradaban dan mengalirkan minyak segarnya. Sebab minyak bukan lagi komoditas, melainkan alat kekuasaan untuk tipu-menipu.
Dalam lanskap global semacam ini, tidak mengherankan jika sastra mutakhir -bahkan yang meraih Nobel tahun 2025, Laszlo Krasznahorkai dari Hungaria- menggaungkan tema apokaliptik. Bukan karena para sastrawan meramalkan kiamat, tetapi karena mereka membaca retakan dan arus zaman. Sastra menjalankan fungsinya seperti seismograf, menangkap getaran yang belum menjadi gempa. Ketika hukum diperalat, nilai dijadikan slogan, dan kekerasan tampil sebagai solusi, maka “kiamat” bukan metafora, melainkan pengalaman eksistensial.
Dampak sikap arogansi semacam ini sangat luas. Dunia Global South semakin memandang narasi kebebasan dan HAM ala Barat dengan dingin. Bukan karena nilai-nilai itu salah seluruhnya, tetapi karena nilai-nilai ini diterapkan oleh hegemoni barat secara selektif dan hipokrasi. Kasus nyata dan terang sebagai dalil atasnya adalah apa yang dilakukan Israel terhadap Palestina, menghilangkan ratusan ribu nyawa manusia sepanjang dua tahun terakhir di Gaza. Dan Amerika akan selalu dengan sopan dan kesatria memveto setiap upaya resolusi PBB yang bernada menghukum Israel. You see the point?
Hukum dipatuhi ketika menguntungkan, diabaikan ketika menghalangi. Dari sini, lahir kesimpulan berbahaya, bahwa hanya negara dengan senjata nuklir dan kekuatan militerlah yang benar-benar berdaulat. Negara lain sekadar “berdaulat sementara”.
Logika ini dibiarkan dan dirawat, maka dunia bergerak menuju zaman tanpa adab /post-rules world dimana kekuasaan menjadi ukuran kebenaran, dan tentunya korporasi kapital adalah pemangku kekuasaan itu.
Dalam bahasa sufistik, ini adalah saat ketika nafsu kuasa menggantikan amanah, dan manusia lupa bahwa kekuatan tanpa adab selalu berumur pendek dan menuju momentum apokaliptik. Sejarah sebagaimana hukum keseimbangan kosmis, ia bekerja lambat, tetapi akan ke sana, kekuasaan Namrud, kekuasaan Fir’aun dll.
Peristiwa ini bukan hanya soal Venezuela, atau Amerika, atau Cina saja. Ia adalah cermin tentang kita semua, tentang dunia yang sedang memilih antara hukum atau kekuatan, antara adab atau dominasi. Dan seperti yang selalu diajarkan sejarah, setiap imperium yang merasa kebal hukum pada akhirnya akan diadili, bukan oleh pengadilan manusia, tetapi oleh waktu itu sendiri.
***
Sementara itu, di negara ini upaya apokaliptik dibungkus secara cantik dengan narasi kesejahteraan dan kemajuan, upaya sistematis menghancurkan ekosistem hutan berjalan seiring dan masif. Mereka menggantinya dengan vegetasi kebun sawit, ladang tebu, perpanjangan izin eksplorasi hutan dan tambang.
Tuhanku yang baik, sudah dekatkan waktu dimana unsur kayu, air, dan tanah kau kirim pula berupa banjir bandang ke Istana?
