Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Cerpen » Jati
    Cerpen

    Jati

    21 September 2025Tidak ada komentar14 Mins Read10 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Oleh Ai Senja

    | Cinta yang Tak Bisa Dikupas

    Di sebuah kota yang seluruh warganya memakai topeng dari kulit pisang, hidup seorang lelaki bernama Jati. Setiap pagi ia bangun, mengganti topeng kulit pisangnya yang mulai menghitam, lalu berdiri di depan cermin sambil berkata, “Aku adalah kesegaran yang semu.”

    Jati mencintai seorang perempuan yang hanya muncul saat hujan deras turun dari langit, bernama Alina. Tapi setiap kali hujan datang dan Alina muncul, tubuh Jati meleleh sedikit—entah karena cinta, atau karena tubuhnya sebenarnya terbuat dari lilin sejak ia lahir dalam oven roti.

    Mereka hanya bisa saling menatap selama sebelas menit setiap kali hujan turun, sebab lebih dari itu, Jati akan kehilangan jari-jarinya.

    “Kenapa kau tidak mencintaiku di musim kemarau saja?” tanya Jati suatu hari, saat sisa tubuhnya tinggal bahu dan niat.

    “Karena aku hanya tumbuh dari luka langit,” jawab Alina, seraya menghilang ke selokan bersama air hujan yang membawa kenangan dan sampah plastik berbentuk hati.

    Suatu malam, Jati memutuskan untuk tidak meleleh lagi. Ia mencuri payung dari mimpi orang lain dan menunggui hujan di alun-alun kota. Alina datang, seperti biasa, berjalan dengan langkah ganjil, membawa wangi tanah dan puisi yang tidak pernah selesai.

    “Kau memayungi dirimu dari cintaku?” tanyanya.

    “Tidak,” jawab Jati. “Aku hanya ingin kalah dengan cara yang lebih lambat.”

    Alina tertawa, lalu membuka jas hujannya, memperlihatkan bahwa seluruh tubuhnya terbuat dari luka yang belum sembuh. Di dada kirinya, ada lubang kecil, tempat nama Jati pernah ditulis lalu dihapus pakai air mata.

    “Aku tidak bisa mencintaimu penuh,” katanya. “Tiap kali aku mencoba, aku bocor.”

    Hujan pun berhenti. Kota menjadi hening. Topeng-topeng dari kulit pisang mulai membusuk bersamaan dengan fajar.

    Jati berdiri sendiri, kini tak lagi meleleh. Tapi payung yang ia curi menghilang, dan ia sadar bahwa kadang, kekalahan adalah cara paling jujur untuk mencintai.

    | Museum Luka-Luka Kecil

    Setelah malam itu, Jati memutuskan tinggal di sebuah bangunan tua yang dulunya adalah museum luka-luka kecil. Tiket masuknya dulu seharga satu kenangan yang tak pernah diceritakan. Kini, museum itu kosong, penuh debu, dan di sudutnya tumbuh jamur yang menyusun puisi tanpa huruf vokal.

    Setiap pagi, Jati menyapu lantai dari potongan-potongan luka yang pernah dipamerkan:

    • Luka karena tidak dibalas pesan selama lima jam.
    • Luka karena tahu dia online tapi tidak bicara.
    • Luka karena salah mengartikan tanda titik tiga …

    Jati menyusunnya ke dalam kotak kaca. Diberinya label-label yang absurd:

    • “Ekspektasi yang Tumbuh Seperti Kuku Kaki”
    • “Cinta yang Salah Alamat Tapi Sudah Terlanjur Duduk di Ruang Tamu”
    • “Maaf yang Tidak Pernah Datang, Tapi Sering Ditunggu Seperti Kurir”

    Suatu hari, seseorang datang. Namanya Miya. Dia tidak memakai topeng kulit pisang. Wajahnya seperti tisu basah yang habis dipakai menyeka air mata semalam.

    “Apa museum ini masih berfungsi?” tanya Miya.

    “Tidak. Tapi lukanya masih aktif,” jawab Jati, tanpa menoleh.

    Miya berjalan pelan. Menyentuh satu demi satu pajangan. Tersenyum miris pada luka karena ‘dilihat tapi tidak dipedulikan’, lalu tertawa saat melihat satu kapsul kecil bertuliskan “Janji akan berubah”.

    “Semuanya ini seperti aku,” gumam Miya.

    “Bukan,” sahut Jati, “semuanya ini kita.”

    Dan di saat itu, keduanya duduk bersama. Tidak saling menyembuhkan. Tidak saling memperbaiki. Hanya duduk. Menjadi dua manusia yang rusak dengan rapi.

    Di luar, hujan turun lagi. Tapi kali ini, Alina tidak muncul.

    Hanya suara rintik, bau tanah basah, dan rasa kalah yang terasa nyaman—seperti selimut lama yang masih bisa menghangatkan, walau berlubang di tengahnya.

    | Konser Kesunyian di Perut Paus

    Beberapa minggu setelah pertemuannya dengan Miya, Jati dibangunkan oleh suara: “Kita semua sedang mengantri untuk dilupakan.”

    Itu bukan suara manusia. Itu suara langit-langit museum. Ternyata ia bisa bicara, tapi hanya saat seseorang sedang hampir menyerah.

    Jati tersenyum. Ia mengenal perasaan itu seperti mengenal aroma bajunya sendiri.

    Miya datang membawa sebuah koper. Isinya bukan pakaian, tapi daftar semua kenangan yang ingin dia simpan:

    • Satu tiket nonton yang tidak pernah jadi digunakan.
    • Sebuah foto grup yang selalu dia crop.
    • Pesan suara berdurasi 0:03 yang hanya berisi hembusan napas.

    “Aku ingin menyimpan semua ini,” katanya.

    “Kenapa tidak dibuang saja?” tanya Jati.

    “Karena luka bukan untuk dilupakan. Luka itu… untuk didengarkan.”

    Dan malam itu, entah bagaimana, mereka masuk ke dalam perut seekor paus yang sedang tidur di tengah jalan. Paus itu tidak berenang. Ia hanya diam, menguap perlahan, dan menelan siapa saja yang sedang kehilangan arah.

    Di dalam perut paus, mereka menemukan panggung. Dan mikrofon. Dan kursi-kursi kosong.

    Di kursi paling depan, duduk kenangan Jati. Lengkap dengan wajah-wajah dari masa lalu:

    • Seseorang yang memeluknya terlalu cepat, lalu pergi sebelum Jati sempat memeluk balik.
    • Seseorang yang bilang “selamat malam” lalu tidak pernah berkata “selamat pagi”.

    Miya berdiri di depan mikrofon. Ia membacakan satu per satu isi kopernya. Tanpa menangis. Tanpa suara tinggi. Hanya kata-kata biasa yang terasa seperti ditusuk pelan.

    “…Dan ini adalah suara yang dia kirim malam itu. Katanya tidak sengaja. Tapi aku tahu, semua kebetulan adalah bentuk lain dari keinginan yang tidak mau mengaku.”

    Jati ikut naik ke panggung. Ia tidak membawa apa-apa. Hanya dirinya. Hanya kekalahan yang ia peluk erat, seperti bantal yang sudah lelah dipeluk terlalu banyak malam.

    Dan malam itu, konser dimulai. Tanpa penonton. Tanpa tepuk tangan

    | Lagu yang Tak Pernah Dirilis

    Konser itu berlangsung selama 17 menit. Tepat waktu bagi paus untuk tertidur lebih dalam, dan cukup lama untuk membuat luka-luka mulai menyanyi dalam dada.

    Di akhir konser, Miya mengeluarkan satu kaset usang dari dalam koper. Labelnya ditulis dengan spidol hitam yang sudah luntur:

    “Untuk Seseorang yang Tak Pernah Jadi Siapa-Siapa”

    Ia tidak memutarnya. Ia hanya memegangnya erat. Seperti rahasia yang lebih baik tetap jadi suara bisu. Lalu ia menatap Jati.

    “Aku ingin kita merekam satu lagu juga. Tapi bukan untuk didengar siapa-siapa. Bukan untuk dikenang.”

    “Untuk apa, kalau bukan dikenang?” tanya Jati.

    “Untuk dilepaskan.”

    Jati mengangguk. Ia mengerti. Ada cinta-cinta yang tidak untuk dipertahankan. Tapi juga tidak untuk dibuang. Hanya cukup ditemani, lalu dilepas saat malam paling sunyi datang mengetuk.

    Mereka menyanyikan lagu itu. Tidak ada lirik. Hanya desahan, tarikan napas, dan jeda panjang. Karena kadang, cinta terdengar paling jelas saat tak satu kata pun diucapkan.

    Di luar perut paus, dunia tetap berjalan. Orang-orang tetap mencintai secara terburu-buru, dan melupakan secara brutal. Tapi di dalam perut paus, waktu membeku.

    Setelah lagu selesai, Miya berdiri. Ia menatap ke dalam mata Jati—mata yang mulai kosong tapi jujur.

    “Kalau nanti aku pergi tanpa pamit, jangan cari aku.”

    Jati tidak menjawab. Karena ia tahu: Ada orang-orang yang datang ke hidup kita hanya untuk membuat kita lebih mampu ditinggalkan. Dan kepergiannya adalah pelajaran paling lengkap tentang bertahan dari kehampaan.

    | Setelah Semua Lelah Usai

    Jati keluar dari perut paus sendirian. Ia tak tahu bagaimana Miya menghilang. Mungkin larut ke dalam gema lagu terakhir mereka. Mungkin berubah jadi ingatan dan menetap di sela napas pagi hari.

    Museum luka ditutup selamanya.

    Ia kini berubah menjadi taman kecil yang setiap bunga di dalamnya hanya mekar saat seseorang sedang patah hati.

    Jati?

    Ia kini bekerja sebagai penjaga senyap di taman itu. Memberi pupuk pada bunga yang tumbuh dari air mata. Menyiram dengan kopi dingin dari obrolan yang tak selesai. Dan sesekali, ia mendengarkan kaset itu—bukan dengan telinga, tapi dengan diam. Karena ada lagu-lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang telah kalah… dengan tenang.

    | Salon untuk Jiwa yang Rontok

    Setelah cukup lama menjadi penjaga taman luka, Jati menemukan tempat baru di ujung kota. Tempat itu tidak ada di peta, tidak muncul di GPS, dan hanya bisa ditemukan jika kamu sedang benar-benar ingin menyerah.

    Di atas pintunya tertulis:

    “SALON JIWA — Kami Tidak Memperbaiki, Kami Membiarkan.”

    Di dalam, tak ada sisir, tak ada gunting. Hanya kursi tua dan cermin-cermin retak. Pengunjung datang membawa beban yang tidak bisa dituliskan, lalu duduk, menatap bayangannya sendiri, dan menangis.

    Jati tidak bicara banyak. Ia hanya memberi handuk kecil dan secangkir teh. Tehnya pahit, karena manis sudah habis dipakai orang lain.

    Sampai suatu hari, seorang pengunjung datang. Rambutnya basah oleh hujan yang belum turun. Matanya seperti kutipan puisi yang dihapus karena terlalu jujur. Dan ya, itu adalah Alina.

    Ia duduk. Ia tidak berkata “hai”. Ia tidak berkata “maaf”.

    Hanya tatap. Tatap yang berkata: Aku masih luka. Tapi sekarang aku tahu caranya hidup dengan robek-robek itu.

    Jati tidak bertanya mengapa ia kembali. Karena cinta sejati tidak butuh alasan. Ia butuh keberanian untuk hadir… meski tahu luka bisa kambuh.

    Mereka duduk berdampingan. Di depan cermin yang tidak memantulkan bayangan mereka, tapi justru memperlihatkan versi yang sudah mereka tinggalkan.

    Alina tersenyum kecil.

    “Sekarang aku tidak bocor lagi,” katanya.

    “Sekarang aku tahu, tidak semua cinta harus menyembuhkan. Kadang cukup menemani… saat racun sudah jadi darah.”

    Dan untuk pertama kalinya, Jati tidak merasa kalah. Karena mungkin, cinta bukan tentang menang-menangan. Tapi siapa yang masih tetap duduk… ketika semua bangkit dan pergi.

    | Hotel yang Hanya Terisi Saat Ditinggalkan

    Setelah salon jiwa ditutup karena terlalu banyak pengunjung yang menangis sampai karpet tumbuh jamur, Jati dan Alina berjalan kaki ke arah selatan, tanpa arah, tanpa tujuan.

    Di tengah padang rumput plastik, mereka menemukan sebuah hotel tua.

    Di plangnya tertulis:

    “HOTEL KESEPIAN – Check-in Saat Kamu Ditinggal, Check-out Jika Sudah Bisa Tidur Sendiri.”

    Hotel itu tidak memiliki resepsionis. Yang menyambut mereka hanya suara lift yang menghela napas dan piano tua yang memainkan nada minor secara acak, seolah-olah kenangan sedang belajar bicara.

    Mereka masuk ke kamar 404. Kamar yang katanya tidak pernah ada, tapi selalu dicari.

    Di dindingnya tergantung lukisan pintu yang tidak bisa dibuka. Di dalam lemarinya ada mantel-mantel dari masa lalu, lengkap dengan sisa aroma pelukan yang tak pernah utuh.

    Alina duduk di tepi ranjang. Jati membuka jendela. Dari luar terdengar suara burung-burung yang berkicau dalam bahasa patah hati.

    “Tempat ini aneh,” kata Alina.

    “Tempat ini kita,” jawab Jati.

    Malam turun seperti tirai berat yang lupa digantung rapi. Mereka tidak tidur. Mereka hanya rebah, saling diam, dan membiarkan waktu berjalan tanpa interupsi.

    Jam di kamar terus bergerak ke belakang. Menunjukkan pukul 00:00, lalu 23:59, lalu 23:58, lalu…

    Alina berbicara lirih. “Aku pernah mencoba melupakanmu. Tapi ternyata melupakanmu seperti mencoba mengeringkan laut dengan handuk kecil.”

    Jati menjawab pelan. “Dan aku pernah mencoba mencintai orang lain. Tapi semuanya terasa seperti mengirim surat ke alamat yang sudah pindah.”

    Mereka tertawa. Tertawa yang tidak lepas. Tertawa yang masih mengandung getar. Seperti menertawakan luka yang belum sembuh tapi terlalu lelah untuk menangis lagi.

    Dan malam itu, di kamar 404, mereka tidak saling menyembuhkan. Tidak saling menyelamatkan. Mereka hanya… tinggal. Bersama. Dalam kekalahan yang terasa hangat. Dalam cinta yang sudah tidak perlu dimenangkan.

    | Katedral yang Dibangun dari Penyesalan

    Suatu pagi yang tidak punya pagi, Jati dan Alina terbangun di tempat yang bukan hotel, bukan rumah, bukan dunia. Mereka berada di dalam Katedral Penyesalan, sebuah bangunan megah tanpa pintu keluar, berdindingkan surat-surat yang tidak pernah dikirim, dibangun dari janji-janji yang tak ditepati dan kata-kata yang seharusnya tak pernah diucapkan.

    Langit-langit katedral itu terbuat dari “andai”.

    Langkah mereka menggema di lantai mozaik yang disusun dari kilatan-kilatan ingatan—potongan momen singkat yang pernah terasa abadi.

    Tangan menyentuh dinding, terasa dingin seperti pesan terakhir yang diketik tapi tak pernah dikirim.

    Di dalamnya, altar utama dijaga oleh seekor rubah bisu. Rubah itu hanya membuka mulut ketika ada orang yang mengaku telah berdamai, lalu menggonggong, “bohong.”

    Alina mendekati sebuah jendela besar yang tak memperlihatkan pemandangan luar, hanya bayangan dirinya sendiri, saat ia masih percaya cinta bisa menyembuhkan segalanya.

    Ia menatap lama, lalu berkata: “Aku pernah mencoba menghapusmu dari hidupku seperti noda kopi di baju putih. Tapi sekarang aku biarkan saja. Biarkan bau itu jadi bagian dari napas harianku.”

    Jati berjalan ke arah mimbar, tempat orang-orang dulu menyampaikan pengakuan dosa.

    Ia membaca daftar dosa yang tertulis di situ. Ada yang berbunyi:

    • Aku pernah bilang ‘nggak papa’ padahal seluruh dadaku remuk.
    • Aku pernah memaafkan agar dia tidak pergi, bukan karena aku ikhlas.
    • Aku pernah jatuh cinta hanya karena takut sendirian.

    Jati duduk. Tidak bicara. Karena ia tahu, kadang diam adalah satu-satunya cara menyembah luka tanpa menjadikannya berhala.

    Di pojok katedral, mereka menemukan piano besar yang hanya memainkan nada ketika seseorang menuliskan nama yang ingin dilupakan di atas tuts-nya.

    Alina menulis: “Diriku sendiri”.

    Dan piano itu mulai memainkan lagu paling jujur yang pernah mereka dengar. Lagu yang tidak bernada. Tidak memiliki awal. Dan tidak tahu bagaimana caranya selesai.

    Mereka menari perlahan. Kaki-kaki luka menyentuh lantai penyesalan, menciptakan jejak-jejak yang berbentuk seperti tanda tanya.

    Tapi mereka tak bertanya apa-apa. Karena di dunia yang absurd ini, pertanyaan hanya memperpanjang lelah.

    Dan cinta… Cinta adalah menerima bahwa ada hari-hari di mana satu-satunya prestasi adalah tidak menyerah.

    | Museum Tawa yang Tidak Lucu

    Keluar dari katedral tanpa pintu—entah bagaimana—mereka tiba di Museum Tawa yang Tidak Lucu. Isinya:

    • Video seseorang tertawa setelah ditinggal, karena tidak tahu harus berbuat apa.
    • Foto-foto orang yang senyumnya terlalu simetris untuk dipercaya.
    • Lukisan tentang seseorang yang tertawa sendiri di kamar mandi setelah memblokir seseorang… lalu membuka blokirnya lagi 7 menit kemudian.

    Di tengah ruangan, ada patung bernama “Aku Baik-Baik Saja”, dibuat dari reruntuhan ego dan serpihan harga diri. Tiap orang yang melihat patung itu akan menangis. Tapi penjaganya akan berkata: “Tenang, itu reaksi normal terhadap kebohongan yang terlalu sering diucap.”

    Jati tertawa di pojokan. Alina mengikutinya. Bukan karena lucu. Tapi karena kalau tidak tertawa, mereka akan berteriak.

    Mereka berjalan melewati lorong bernama “Hubungan yang Tidak Pernah Jadi”, lalu masuk ke ruang kecil bertuliskan: “Area Pengakuan Terlambat”.

    Di sana, setiap pengunjung diwajibkan menuliskan satu hal yang seharusnya mereka katakan, tapi tidak pernah sempat.

    Alina menulis: “Aku mencintaimu. Tapi aku terlalu takut kau akan mempercayainya”.

    Jati menulis: “Aku menunggumu. Tapi aku menyembunyikannya di balik kemarahan”.

    Tinta itu tidak kering. Karena pengakuan-pengakuan semacam itu memang tak pernah bisa mengeras. Ia basah selamanya. Mengendap di balik tenggorokan, menolak berubah jadi kata.

    | Pulang ke Tempat yang Tidak Ada

    Pada akhirnya, mereka tidak berjalan ke mana-mana lagi. Karena kelelahan bukan soal kaki. Tapi soal jiwa yang terlalu sering dipaksa melupakan padahal belum sempat memahami.

    Mereka duduk di tengah kota, yang kini tidak lagi kota. Bangunan-bangunan berubah jadi kutipan. Jalanan menjadi paragraf-paragraf panjang yang tak punya titik.

    Alina berkata: “Kalau besok aku tidak ada, bukan berarti aku pergi. Mungkin aku hanya jadi bagian dari udara. Atau debu yang menempel di baju harimu. Atau hujan yang hanya membasahi sebelah sandalmu.”

    Jati menatap langit. Langit menatap balik. Dan langit pun akhirnya menangis, bukan karena sedih, tapi karena tahu dua orang ini tidak akan pernah selesai.

    | Koper yang Tidak Pernah Dibuka

    Bertahun-tahun berlalu—atau mungkin baru hitungan detik; waktu tidak pernah punya aturan di dunia absurd ini. Jati kini tinggal sendirian, di sebuah rumah kecil di tepi danau yang tidak memantulkan bayangan, hanya mengulang masa lalu.

    Ia tidak lagi menulis. Tidak lagi menyimpan. Tidak lagi mengerti apa itu rindu—karena rindu, seperti kata orang, hanya relevan bagi mereka yang percaya bisa bertemu kembali.

    Di sudut rumah, tergeletak sebuah koper tua. Koper itu milik Miya. Yang dulu datang dengan luka, lalu menghilang tanpa pamit. Jati tidak pernah membukanya.

    Hari itu, entah kenapa, tangannya bergerak sendiri. Ia menyeret koper itu ke tengah ruangan, duduk, dan membuka resletingnya.

    Terkunci.

    Bukan dengan gembok, tapi dengan suara.

    Ya—kunci koper itu hanya bisa dibuka oleh satu kalimat yang tak pernah diucapkan. Dan entah bagaimana, Jati tahu.

    Ia mendekat, menunduk, lalu berkata pelan: “Aku juga, Miya… dari awal, aku juga.”

    KLIK.

    Koper itu terbuka. Isinya bukan pakaian. Bukan surat. Bukan rahasia.

    Isinya adalah… Jati sendiri. Versi dirinya yang lebih muda. Lebih rapuh. Masih memakai topeng kulit pisang. Masih berharap setiap cinta bisa membuatnya utuh.

    Versi muda Jati menatapnya dan berkata, “Kenapa kamu tinggalkan aku di sini?”

    Jati tua hanya diam. Karena tidak semua penjelasan bisa dikirim kembali ke masa lalu.

    Dan saat itu juga, versi muda Jati bangkit dari koper, perlahan menyatu kembali ke dalam tubuh Jati yang sekarang—seperti serpihan waktu yang akhirnya tahu ke mana pulang.

    Tubuhnya berat. Dadanya sesak. Tapi wajahnya tenang.

    Di luar, hujan turun. Tapi tidak deras. Tidak seperti dulu. Hujan kali ini hanya seperti bisikan: “Kau sudah cukup kalah. Sekarang kau boleh hidup.”

    Jati berdiri. Menatap kaca. Dan untuk pertama kalinya sejak cerita ini dimulai…

    …Alina ada di belakangnya. Tersenyum. Tanpa luka. Tanpa air mata. Tanpa perlu menjelaskan dari mana dia datang, atau bagaimana bisa kembali. Ia hanya berkata: “Aku belum pernah benar-benar pergi. Aku hanya ingin kau menemukan dirimu sendiri dulu.”

    Mereka tidak berpelukan. Tidak ada musik yang mengalun. Tidak ada akhir bahagia. Tapi juga… tidak ada akhir yang sedih. Hanya dua orang yang saling menemukan di antara puing-puing cerita yang pernah menelan mereka bulat-bulat.

    Akhir?

    Tidak. Ini babak ke-0—bagian di mana cinta tak lagi absurd, karena akhirnya… tak perlu dijelaskan.

    Selesai. Atau lebih tepatnya: dimulai.

    Cerita Romansa Cerpen Alina cerpen sastra
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleMenikmati “Sakit Itu Rumit” Ala Joko Pinurbo
    Next Article Puisi-Puisi Riki Utomo

    Postingan Terkait

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 2025

    Rumah Balian

    30 November 2025

    Sandal Jepit Pesantren

    9 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Puisintaksis dan Manusia Algoritma: Ketika Peluncuran Buku Menjadi Peristiwa Ontologis

    21 Februari 202687 Views

    Buku Sang Nabi

    9 Februari 202614 Views

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 202613 Views

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202695 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (207)
    • Bisnis (7)
    • Buku (84)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.