Tanggal-tanggal biasanya hanya angka yang digantung di dinding, lalu dicoret pelan oleh waktu. Tetapi ada tanggal tertentu yang berperilaku seperti puisi: ia tidak selesai dibaca dalam satu hari. Dua puluh delapan April adalah salah satunya. Hari ketika seorang penyair mati, lalu bahasa memutuskan untuk hidup lebih lama.
Pagi itu, konon langit tidak menulis apa-apa. Awan hanya menggantung seperti halaman kosong. Jalan-jalan menguap pelan. Kota menata debu di bahunya. Di sebuah kamar yang sempit, tubuh seorang lelaki menyerahkan napas terakhirnya kepada dunia yang belum selesai ia maki dan ia cintai sekaligus. Tubuh itu kelak membusuk seperti tubuh lain, tetapi suaranya mengalami apa yang disebut para kritikus sebagai afterlife of text—kehidupan kedua yang justru lebih liar daripada pemiliknya.
Ada kematian yang selesai di liang lahat. Ada kematian yang berubah menjadi mitopoesis: tubuh hancur, mitos lahir. Penyair itu termasuk golongan kedua.
Sejak saat itu, kata-kata di negeri ini tidak lagi berjalan sopan dengan tangan terlipat di dada. Mereka mulai merokok di beranda, menendang pintu tata bahasa, jatuh cinta pada luka, bertengkar dengan nasib, lalu pulang membawa debu di rambutnya. Bahasa yang dulu berdasi mulai membuka kancing kerahnya.
Sebelum ia datang, banyak kalimat hidup terlalu tertib. Sesudah ia datang, larik-larik tahu cara berdarah.
Ia mengajari kita bahwa puisi bukan taman bunga yang dirawat tukang kebun dengan gunting kecil. Puisi bisa menjadi hutan. Ada ranting patah, ada duri, ada suara hewan malam, ada jalan sesat yang justru menyelamatkan. Dalam teori estetika, ini mungkin disebut disrupsi liris: ketika keindahan tidak lagi lahir dari keteraturan, melainkan dari guncangan.
Aku membayangkan para kata berkumpul malam itu di sudut kota. Kata “sunyi” duduk sendiri sambil menatap gelas kosong. Kata “marah” mondar-mandir seperti buruh yang belum dibayar. Kata “rindu” menyisir rambutnya berulang kali. Kata “mati” pura-pura tenang. Lalu kata “aku” masuk paling akhir, membuka pintu dengan keras, dan semua orang tahu sastra baru saja berganti arah.
Sebab kadang revolusi tidak datang dengan senapan. Ia datang dengan pronomina tunggal.
“Aku” yang dulu malu-malu, mendadak menjadi pusat kosmos. Ia bicara bukan sebagai pahlawan sempurna, melainkan sebagai manusia retak: sombong, rapuh, haus, kesepian, penuh eros dan ngeri. Itulah yang membuatnya modern. Subjek yang tidak selesai, yang dalam istilah filsafat dapat disebut being-in-fracture—ada yang selalu pecah di dalam dirinya.
Hari ini kita hidup di zaman yang ramai sekali. Semua orang berkata-kata seperti keran bocor. Linimasa dipenuhi kalimat yang diproduksi massal, dikeringkan algoritma, lalu dijual sebagai perasaan. Ada puisi yang hanya kosmetik: cantik dari jauh, kosong saat disentuh. Ada kutipan yang lahir bukan dari pengalaman batin, tetapi dari hasrat ingin dibagikan.
Di tengah pasar yang bising itu, seorang penyair mati dari masa lalu masih terdengar lebih hidup daripada ribuan pengeras suara.
Mengapa?
Karena ia tahu satu rahasia tua: kata-kata yang baik tidak berusaha terlihat indah. Mereka berusaha tepat. Dan ketepatan, bila mencapai puncaknya, akan tampak indah dengan sendirinya.
Maka setiap 28 April, kita sebenarnya tidak sedang mengenang kematian seseorang. Kita sedang memeriksa denyut bahasa kita sendiri. Apakah ia masih berani? Apakah ia masih jujur? Apakah ia masih sanggup menggigil ketika menyebut cinta, marah ketika menyebut ketidakadilan, tertawa ketika dunia terlalu serius?
Jika tidak, mungkin yang mati bukan penyair itu.
Mungkin kita.
Dan di suatu tempat, di perpustakaan sunyi tempat debu menjadi arsip cahaya, larik-larik tua masih mengetuk meja, meminta dibaca ulang. Mereka tidak butuh bunga. Mereka hanya ingin mulut manusia kembali mengucapkannya dengan darah yang cukup hangat.
