Kawasan Babakan Ciwaringin Kabupaten Cirebon dikenal sebagai salah satu pusat Pendidikan Islam tertua di Jawa Barat. Selain memiliki banyak pondok pesantren bersejarah, daerah ini juga menjadi tujuan ziarah religi, salah satunya adalah makam KH. Abdul Hanan, seorang ulama yang berperan penting dalam perkembangan pesantren dalam dakwah Islam di Babakan Ciwaringin Cirebon.
KH. Abdul Hanan tidak dapat lepas dari sejarah panjang pondok pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon yang berdiri sejak awal abad ke-18. Pesantren ini didirikan oleh tokoh ulama yang bernama Syekh Hasanudin atau KH. Jatira sejak tahun 1705 M, yang menjadikan Babakan sebagai pusat penyebaran agama Islam di Cirebon. Seiring berkembangnya pesantren muncul generasi penerus ulama yang melanjutkan perjuangan dakwah.
KH. Abdul Hanan salah satu tokoh penting yang ikut andil dalam melanjutkan dakwah di Babakan Ciwaringin Cirebon dalam membina para santri dan masyarakat sekitar.
Makam beliau kemudian menjadi tempat ziarah karena dianggap memiliki nilai sejarah dan spiritual, serta menjadi simbol perjuangan ulama dalam menyebarkan ajaran agama Islam di Babakan Ciwaringin.

Dan di dalamnya terdapat banyak makna mulai dari bangunan dan juga kata-kata salah satunya adalah dari bangunan ada pintu masuk yang mana ketika seseorang mau masuk pasti akan menunduk, itu artinya seseorang ketika hendak beribadah harus bertatakrama, menunduk atau merendahkan diri hilangkan kesombongan yang ada di dalam diri kita semua orang yang melewati pintu itu sama pasti menunduk itu artinya semua orang itu sama saja di hadapan sang pencipta tidak pandang pangkat setinggi apapun pasti menunduk ketika melewati pintu itu, itulah arti atau makna tentang bangunan pintu ketika masuk ke dalam makam.
Di dalamnya juga terdapat tulisan hadis yang penuh makna seperti:
الاستقا مة خير من الف كرامة وثبوب الكرامة بدوام الاستقا مة
Al Istiqomatu Khoirun Min Alfi Karomah Watsabutul Karomah Bidawamil Istiqomah
Hadis ini mengajarkan kita bahwah istiqomah, kontinyu, atau terus-menerus itu adalah lebih baik daripada kita punya banyak kelebihan dalam ibadah atau sosial.
KH. Abdul Hanan adalah terkenal sebagai ulama kharismatik yang hidup di lingkungan pesantren Babakan Ciwaringin. Beliau adalah sosok guru yang mendidik banyak santri, dan memiliki hubungan keilmuan dengan para Kiyai di Babakan. Dalam beberapa kisah lokal, beliau dikenal sebagai sosok alim, sederhana, dan tekun dalam mendidik santri. Bahkan disebutkan beliau memiliki peran dalam mendidik generasi penerus ulama, yang termasuk kemudian mengembangkan pesantren di Babakan
KH. Abdul Hanan juga dikenal sebagai tokoh yang menjaga tradisi keilmuan pesantren Salaf. Seperti pengajian kitab kuning dan akhlak santri.
Lokasi makam ini masih terdapat di kompleks pesantren Babakan yang hingga kini dikenal sebagai salah satu sentra pendidikan Islam di Cirebon. Kegiatan yang biasa dilakukan di tempat ini bukan hanya tempat ziarah saja tetapi juga menjadi tempat kegiatan keagamaan di antaranya:
- Ziarah kubur untuk masyarakat dan santri untuk mendoakan beliau
- Tahlilan dan istighosah pada waktu-waktu tertentu
- Haul KH. Abdul Hanan yang dihadiri masyarakat, santri dan jamaah
- pengajian kitab kuning oleh para kiyai dan santri
Ini adalah cerminan kuatnya tradisi dan budaya pesantren di Babakan yang sudah berlangsung ratusan tahun yang masih lestari sampai sekarang.

Keberadaan makam KH. Abdul Hanan berperan penting dalam kehidupan sosial dan religius di masyarakat. Selain tempat spiritual. situs ini juga menjadi sejarah Islam di Cirebon yang mempererat hubungan antara ulama, santri dan masyarakat.
Situs ziarah KH. Abdul Hanan di Babakan Ciwaringin bukan sekadar makam, tetapi bagian dari warisan sejarah Islam di Cirebon, dengan latar belakang pesantren berdiri sejak abad ke-18, keberadaan situs ini terus menjadi pusat kegiatan keagamaan dan spiritual yang hidup di tengah-tengah masyarakat. (Hamid/27/4/2026)
