Oleh Cikeu Bidadewi
Bulan Juni dan Juli identik dengan liburan sekolah yang panjang. Betul. Tapi itu pun jika kebetulan tak ada dengan pendaftaran sekolah lanjutan. Jika ada? Urusannya pasti berbeda. Karena mendaftar pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di negeri ini tahapannya tidak mudah. Kepanjangan juga jika membahas soal itu yang kita semua sudah sama-sama paham.
Juni tahun 2025 di mana musim hujan terjadi. Tahun ini musim kemaraunya terjadi lebih pendek. Hujan mulai turun bahkan sejak bulan maret. Jadi… Puisi Hujan Di Bulan Juni yang terkenal dari Sapardi Djoko Damono itu benar- benar kejadian dan kita alami saat ini. Hujan yang turun membasahi bumi di bulan Juni. Bahkan daerah Tangsel – Banten tempat kami tinggal terjadi banjir di beberapa area.
Juni- Juli tahun ini fixed kami tidak merencanakan berlibur kemanapun. Tapi akhirnya libur juga meski tak jauh jauh. Anak- anak bersama ayah mereka pergi camping sambil berburu babi hutan. Ada beberapa teman ayah mereka juga ikut. So itu seperti rombongan. Jalanan menuju ke sana berliku dan tidak bisa memakai kendaraan biasa. Minimal Jeep.

Soal pengalaman berburu babi hutan? Sebetulnya juga tidak 100 persen kejadian. Anak- anak kami para remaja ABG tak sampai separo jalan mengikuti. Karena itu kegiatan yang melelahkan, dan mereka tak terbiasa.
So, mereka hanya menikmati perjalanan berangkat dan pulang. Acara makan-makan dengan menu kambing guling ketika malam. Dan sayur asem plus sambel kala siang. Sarapan? Mereka membawa banyak roti. Karena menuju ke tempat itu ketemu pasar terakhir adalah 2 jam berkendara.
Dari semua pengalaman itu, masakan sayur asem paling membekas untuk anak-anakku. Kemarin ketika saya berkendara di daerah Bintaro, kebetulan saya melihat deretan pohon melinjo yang tumbuh di pinggiir jalan. Entah siapa yang menanam pohon- pohon ini dulunya? Gara- gara melihat deretan pohon melinjo itu maka saya terinpirasi untuk memasak menu sayur asem lagi. Tentu dengan teman- temannya, alias, ada sambel teri medan yang pedas. Ada tempe mendoan dan gorengan lain. Udang yang saya bumbu belimbing wuluh, cabe, bawang merah, bawang putih dan sereh. Juga Puisi yang saya tulis ini. Meski asal-asalan, tapi sayang jika tak saya unggah.

PUISI POHON MELINJO
Makanlah Nak, Mama sudah memasak sayur asem
Entahlah siapa dulu yang punya ide resep sayur ini
Yang pasti dari Jabodetabek hingga ke pesisir Banten
Masih bisa ditemui pohon-pohon melinjo
Pohon yang bermanfaat dari biji hingga ke daun
Apakah kamu pernah melihat pohon buah Melinjo?
Buahnya berwarna kuning dan merah ketika masak
Agak pahit rasanya tapi enak ketika menjadi emping
Kulitnya gurih ditumis pakai cabe dan teri
Daunnya untuk campuran sayur asem tadi
Sayur asem khas di betawi sejak Mama kecil
Dahulu orang tidak susah ketika lapar
Tanaman pohon melinjo tersedia di sekitar rumah
Mudah pula memasak sayur bergizi dan segar ini
Sayur asem bisa dicampur dengan nangka dan waluh
Kacang panjang dan jagung juga boleh variasi
Gerusan kacang tanah dan terong muda
Tak kan cukup sepiring nasi jika ada sambel terasi
Bumbu sayur asem itu gampang dan tinggal didihkan air
Ulek halus cabe dan bawang merah lalu masukan ke air yang bergolak
Cemplungkan daun salam dan lengkuas keprek
Kamu akan mencium aromanya
Membuat emping pun tidak sulit
Kamu tinggal lepaskan kulitnya lalu tumbuk
Taburi sedikit bumbu dan jemurlah
Ketika di goreng dan tambahan kecap
Itu akan jadi penganan renyah dan gurih
Bumbu kulit melinjo tumis teri juga mudah
Iris bawang merah dan bawang putih serta cabe
Tumis dan masukan teri beserta kulit melinjo
Beri air sedikit dan biarkan masak
Tambahkan geruntulan rawit
Pohon Melinjo yang banyak manfaat
Pernahkah Kamu lihat pohon ini sayangku
Di kota-kota besar nyaris tak ada
Pun Jarang di daerah kita tinggal
Setiap jengkal lahan sudah jadi lahan petakan

Membahas soal bulan Juni Juli, liburan dan pendaftaran masuk sekolah? Tadinya saya ingin menuliskan tentang hal- hal indah? Tapi kenapa akhirnya malah berujung ke menu makanan sayur asem? Bahkan puisi? Entahlah? Tapi yang pasti… apapun yang kita kerjakan? Niatkanlah dengan rasa cinta.
Dan tak terasa bulan Agustus 2025 telah tiba, Bulan kemerdekaan kita.
DIRGAHAYU ke 80, INDONESIA tercinta
Penulis:
Cikeu Bidadewi
Novelis, Cerpenis, Penulis Sosialita, dan Pegiat Komunitas Dapoer Sastra Tjisaoek, Tinggal di Tangerang Selatan, Banten, Indonesia