Oleh Lanang Setiawan
(Pelopor Sastra Tegalan Penerima Hadiah “Rancage” 2011)
Ada masa ketika bahasa Tegal berdiri menggigil di tepi jurang kepunahan. Anak-anak muda menganggapnya asing, ruang keluarga tak menghangatkannya, dan panggung seni membiarkannya terlunta di luar pintu. Tidak ada film, tidak ada sandiwara, tidak ada pidato, tidak ada drama sampakan, dan tidak ada prosa berbahasa Tegal. Para pekerja seni diliputi rasa minder, rasa gentar, dan rasa tak percaya diri menggunakan bahasa ibu sebagai medium karya. Bahasa Tegal seperti terkungkung pada ruang-ruang domestik: diucapkan lirih, tetapi tak pernah dinaikkan ke panggung. Ada rasa ciut yang lama diwariskan—malu ketika bahasa Tegal memasuki ranah resmi, sungkan ketika ia harus dituliskan, dan ragu ketika ia hendak ditampilkan. Seolah bahasa sendiri tidak layak berdiri setara.
Namun semua itu pecah pada 26 November 1994. Pada hari ketika Nyanyian Angsa karya WS. Rendra saya alihwacan menjadi “Tembangan Banyak”, lahirlah apa yang kelak disebut Sastra Tegalan. Bukan sekadar terbitnya sebuah karya, melainkan letusan jiwa kolektif—sebuah percikan yang mendadak berubah menjadi kobaran. Bara yang lama tidur tiba-tiba disapa angin panas.
Orang Tegal bangkit: menulis, bersuara, bergulat dengan kata-kata, menyalakan bahasa ibu dalam puisi, drama, film, cerpen, novel, bahkan dalam hiruk-pikuk media sosial. Dunia Sastra Tegalan hidup—riuh, bergolak, dan penuh nyala. Mengguncang kelengangan, menegakkan martabat, dan bahasa yang menebalkan harga diri, bahasa yang mengguratkan masa depan.
Tanpa itu semua, bahasa Tegal mungkin telah menjadi fosil sunyi di lembar sejarah. Generasi muda tak lagi hafal kosakatanya. Tetapi ketika lomba-lomba bertema Tegalan digelar, mereka berloncatan mendaftar, seolah-olah sesuatu dalam dirinya dipanggil pulang—pulang ke akar yang lama terlupa, pulang ke rumah yang nyaris hilang dalam kabut peradaban.
Ketika ada gagasan membuat antologi puisi, cerpen, artikel, dan cerita rakyat berbahasa Tegal, orang-orang yang bahkan belum akrab dengan kosakatanya pun turut menggulung lengan. Entah apa dorongan terdalamnya—apakah kerinduan yang lama terkubur, atau sekadar ingin namanya tercatat. Saya tidak berkewenangan menimbang niat mereka. Yang penting, api yang sudah saya sulut bertambah berkibar-kobar dan bahasa ibu enggan mati dengan terus berdenyut.
Sejak hadirnya Tembangan Banyak, karya sastra Tegalan tumbuh seperti benih yang disirami musim hujan pertama. Buku-buku puisi bermekaran. Cerpen-cerpen dan novel memijarkan wacana baru. Naskah drama dan monolog menyembulkan suara-suara yang sebelumnya terpendam. Lalu lahirlah aliran-aliran baru: Wangsi, Kur 267, Tegalerin 2-4-2-4, hingga Puisi Rolasan. Satu per satu, penulis bermunculan seperti mata air yang kembali menemukan jalurnya.
Kebangkitan itu merambat lebih jauh, menembus tembok akademik. Universitas Pancasakti (UPS) Tegal kini membuka mata kuliah Sastra Tegalan. Sebuah peristiwa yang dulu nyaris tak terbayangkan: bahasa Tegal duduk sejajar dengan disiplin ilmiah lainnya, didiskusikan dalam kelas, diteliti, dikaji, dan dihormati. Bahasa yang dulu sering direndahkan, kini mengangkat wajahnya di meja akademik.
Gelombang itu bahkan memasuki ruang paling sunyi dalam kehidupan manusia: ruang iman. Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kota Tegal kini tengah getol-getolnya menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Tegal.
Ini bukan sekadar proyek linguistik; ini adalah anugerah martabat. Bahasa Tegal diajak berdiri di hadapan firman Tuhan—bukan sebagai tamu, tetapi sebagai bahasa yang dipercaya menjembatani pemahaman umat. Sebuah kehormatan yang hanya bisa dicapai oleh bahasa yang benar-benar dicintai dan dirawat.
Dr. Sunu Warsono, dosen Universitas Indonesia, pernah mengungkapkan pandangan bening: bahasa Tegal terselamatkan karena sang pelopor Sastra Tegalan mengubahnya dari alat komunikasi menjadi alat ekspresi. Dan alat ekspresi paling subur adalah seni—terutama sastra.
Melalui sastra, kosakata Tegal tumbuh dan berkembang. Melalui sastra pula, bahasa Tegal memasuki ruang imajinasi yang luas, menjadi kendaraan untuk menyampaikan cita-cita orang Tegal tentang kemakmuran, keamanan, religiusitas, dan kedamaian. Sastra Tegalan merangsang ide-ide baru yang membutuhkan bahasa Tegal sebagai medium—dan ketika ide tumbuh, bahasa pun ikut tumbuh. Ia menyerap kata, meminjam, mengolah, lalu melahirkan kosakata baru yang memperkaya tubuhnya sendiri.
Dari sinilah bahasa Tegal bertahan:
bukan hanya hidup, tetapi menyala;
bukan hanya menyala, tetapi menerangi; bukan hanya diterangi, tetapi terwariskan.
Bahasa yang dulu dianggap pinggiran kini berdiri di tengah.
Bahasa yang dulu dianggap memalukan kini menjadi kebanggaan.
Bahasa yang dulu nyaris hilang kini memiliki masa lalu yang kuat, masa kini yang tegak, dan masa depan yang memancarkan cahaya panjang.
