Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Kritik Sastra » Suara-Suara dari Buku Puisi Alifuru
    Kritik Sastra

    Suara-Suara dari Buku Puisi Alifuru

    5 Januari 2022Updated:7 Januari 2022Tidak ada komentar11 Mins Read308 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Pada sebuah lahan bekas abu, bekas arang, bekas jelaga
    seribu orang datang berjalan dari darat ke laut
    dan ada seribu orang datang berjalan dari laut ke darat
    mereka bertemu di satu jalan kenangan yang sudah terlalu lama
    ditinggal merana begitu saja
     
    Dalam perjalanan pulang ke hotel Alia daerah Cikini, Jakarta Pusat aku masih terngiang awal bait puisi ‘Epos Pulau-Pulau’ yang sempat kubuka setelah mendengar pengumuman 5 buku puisi pilihan tahun 2021 dalam perayaan Hari Puisi Indonesia ke sembilan yang diadakan oleh Yayasan Hari Puisi. Ya, puisi itu ada dalam buku ‘Suara-Suara dari Alifuru’ yang ditulis oleh Oppa Rudi Fofid dari daerah Maluku, selain buku itu ada buku-buku lain yang aku bawa pada saat itu, di malam yang dingin di dalam teater kecil Taman Ismail Marzuki.

    Anehnya, suatu rasa sedih menyelinap ke dalam hatiku ketika itu meski belum kuselesaikan membacanya, aku seolah merasakan sesuatu yang lain, mengembara pada tanah seberang sana yang sering kudengar atau kubaca lewat berita-berita koran tentang konflik, ketertinggalan. Dari situ, setelah tiba di hotel, segera kubaca lanjutan puisinya.

    lihat, saudara-saudara
    orang-orang itu telah bicara dalam bahasa tanah dan logat tanah
    sebab tanah adalah ibu, sebab tanah adalah ayah
    dari sana terbitlah mata air yang mengalirlah perjanjian
    pengharapan dan mimpi-mimpi
     
    lihat saudara-saudara
    orang-orang itu telah baku tempel
    ibu jari tangan kanan
    mereka telah berteriak dalam lagu-lagunya
    heka leka, habis leka lalu leka
     
    Sejenak aku terhenti, pada bagian ini aku mulai menyadari bahwa puisi bukanlah sekadar berindah-indah, beraneh-aneh, atau mistis dengan kata-kata, namun puisi memiliki visi. Oppa Rudi Fofid mungkin satu di antara para penyair yang menyadari tentang itu. Aku menghirup kopi yang baru saja selesai diseduh, terasa pahit. Kucampurkan gula agar hirau pahit lenyap, namun lidah selera pasti beragam dalam merasakan kopi, begitu pun dengan menafsir puisi. Hanya saja, untuk mencapai hikmah dan manfaat tentu segala rasa telah dijalani.

    “katong sudah brenti bakale
    tagal bakale memang seng bae
    tetapi, bakubae memang lebe bae”
     
    Ya, dari dialog bahasa Maluku atau Ambon itu dapat juga kita ambil hikmah bahwa perkelahian tidak akan membawa kepada sebuah visi yang lebih baik, asam garam kehidupan biasa membawa manusia pada suatu kebijaksanaan. Puisi ini pun seolah menyeru kepada tanah Maluku untuk kembali pada tanah moyang, pada kedamaian.

    o, dari pulau-pulau
    ada laki-laki pukul tifa
    ada laki-laki toki gong
    ada laki-laki lempar tombak ke udara
    lalu tombak turun jadi tenun tanimbar
     
    dari laut-laut ada perempuan berjalan lenggang kangkung
    dia melambaikan lenso dan bulu cendrawasih
    maka seluruh mata panah yang tajam telah berubah jadi mata pena
    manakala setiap orang akan menulis cerita damai
    dengan jemari tangannya sendiri
     
    mari, saudara-saudara
    kita tuang minyak-minyak harum pada kain gandong
    yang dipakai melingkar pulau-pulau dari morotoi sampai ke wetar
    supaya pada satu rantai emas putih
    kita hanya satu darah, kita hanya satu diri
     
    kitalah orang-orang yang rela menyalakan api
    sehingga dengan hanya satu sentuhan
    maka seribu pulau telah mandi cahaya
    yang begitu rahman
    yang begitu rahim
    “di lautan maluku, ombak berkilau-kilau
    di bawah sinar bulan, airnya gilang gemilang”
     
    Begitulah awal perkenalan dengan puisi-puisi Oppa Rudi Fofid, yang menghantarkanku pada larik-larik puisi berikutnya. Tentu saja bagi setiap orang yang menggeluti dunia puisi mengetahui dengan sadar bahwa dunia puisi adalah dunia tersendiri, yang kerap kali dihubungkan dengan dunia imajinasi yang tak ada kaitannya dengan realitas. Meskipun, sumbernya ditemukan dari dunia realitas. Akan tetapi, bisa saja ini tidak berlaku pada puisi-puisi Oppa Rudi Fofid yang secara gamblang berbicara pada wilayah isu sosial dan politik, sangat terasa pada puisi Metroxylon Louhenapessy.

    (pattimura makan sagu, tijahahu makan sagu
    sagu adalah roti yang diniatkan di dalam doa
    berikanlah kami makanan kami secukupnya
    tetapi tuhan curahkan sagu limpah ruah
    molat, tuni, ihur, duri rotan, makanaru
    dan sagu yang mulia, louhenapessy)
     
    ela e, ela sagu, perasaan sagu ada padamu
    adakah yang lebih sagu dari pada sagu?
    sudah lama kita berlayar dari pulau sagu ke pulau sagu
    sudah lama kita berjalan dari lembah sagu ke lembah sagu
    kita pernah bertemu seribu rumpun sagu di rimba rakyat
    tetapi sagu apa tumbuh di tengah denyut jantung peradaban
    yang serabut akarnya menggenggam ulu hati maluku?
     
    ela e, ela sagu, perasaan sagu ada padamu
    adakah yang lebih baja dari batang sagu
    manakala hati adalah tiang yang lurus dan tulus?
    adakah yang lebih lembut dari pada papeda
    manakala empulur jiwa lebih putih dari pada putih?
    adakah lambaian sagu tetap muda remaja
    kendati seratus tahun merambah sejarah zaman?
     
    ela e, ela sagu, perasaan sagu ada padamu
    dari rimba almamater kehidupan terimalah metroxylon louhenapessy
    batang lapis baja sebab prinsip tidak pernah kalah
    seribu kali ditebang secara brutal oleh mesin jahanam perambah liar
    metroxyon louhenapessy tidak pernah tumbang
    sebab tumbuh di tengah laha basah kebenaran
     
    ela e, ela sagu, perasaan sagu ada padamu
    metroxylon louhenapessy, tidak ada duri di sekujur tubuh
    metroxylon louhenapessy, daun bising tetapi tumang hening
    metroxylon louhenapessy, riwayat hidup tak pernah punya ujung
    metroxylon louhenapessy, sagu adalah kedaulatan sebuah bangsa
    metroxylon louhenapessy, sagu adalah lagu tentang roti kehidupan
    metroxylon louhenapessy, selamat maka sagu bersama malaikat-malaikat
     
    Membacanya, kembali menyadarkan kita bahwa kerja menulis puisi adalah upaya untuk menyempurnakan rasa kemanusiaan, yang pada kenyataannya memang penyair selalu dihadapkan pada persoalan realitas. Oppa Rudi Fofid berada di tengah-tengah Maluku di zaman yang telah mengalami kemajuan dalam ilmu pengetahuan, teknologi, manajemen, sistem politik dan ekonomi, namun pada kenyataannya di mata penyair ada sesuatu yang belum lengkap untuk sebuah kemajuan Maluku.

    Sikap itu dipertegas pada puisinya ‘Syair Orang Kampung’ yang bernada protes sosial pada suatu kenyataan yang dilihat, didengar, bisa jadi dirasakan juga olehnya. Puisi ini memberikan gambaran kehidupan orang-orang pribumi dengan pendatang, ia memadatkannya dengan metafor-metafor dan ungkapan yang semakin mengerucut menikam pada peristiwa-peristiwa pergeseran kebudayaan.

    kami datang dari udik
    mama biang iris tali pusat kami
    pakai sembilu
     
    kampung kami amat perawan
    malaikat sering mandi
    dewa-dewi tamasya
     
    rimba raya, gunung mulia, sungai lagu, laut ajaib
    semuanya hanyalah kamar-kamar
    tempat kami sederhanakan hidup
     
    kalau orang kota datang
    kami sambut bagai raja
    barang dan jasa, semua cuma-Cuma
     
    kami suka orang kota
    baju, sepatu, tustel, pisau cukur
    pomade, logat, semua itu pesona
     
    kalau orang kota pergi
    kami antar dengan air mata
    kami kenang mereka secara kaya raya
     
    batin kami kenal dua kasta orang kota
    satunya pembela dan pembina kami
    satunya pecah-belah dan binasakan kami
     
    banyak orang kota berhati putih
    mereka inilah para pembela dan pembina kami
    jika bertemu, mereka ingin gendong kami
     
    tidak sedikit orang kota berhati hitam
    mereka pecah-belah kami dan mau binasakan kami
    jika bertemu, mereka ingin bius kami
     
    kami lugu tetapi orang kota itu lucu
    kalau kami ke kota, jadilah berita
    mereka tatap ujung kaki sampai ujung rambut kami
     
    kalau kami bicara dengan nada-nada kampung
    mereka tertawa geli sampai bertahun-tahun
    seakan lagu bahasa kami itu satu kesalahan budaya
     
    kami diperkenalkan pada kota
    beginilah kota, kencing bayar, parkir bayar
    beginilah kota, tidak ada mangga dan pepaya gratis
     
    kami orang kampung kecil
    tetapi kami punya mimpi besar
    maka kami belajar melihat dunia
     
    ketika kami sanggup melihat ketidakadilan
    ketika kami ikut protes dalam unjuk rasa
    kami diserang kata-kata payah: kampungan
     
    dulu, kami pernah sesali takdir
    mengapa lahir di udik
    bukankah itu abadi di akta kelahiran
     
    kini, setelah kami kenal dunia
    barulah kami mengerti
    kampung kami adalah surga yang diperebutkan
     
    maka atas nama tanah kami
    atas nama nenek moyang kami
    kami akan kembali jadi anak kampung nan udik
     
    kami akan pergi ke batu baboso
    bicara dengan orang baboso-baboso
    dalam bahasa sirih, pinang, kapur, gobang
     
    o, penjaga tanah, penjaga rimba
    penjaga gunung, penjaga laut
    berpihaklah pada kesucian
     
    jika ada orang kampung kami
    sambil lirik tanah kami dengan mata culas
    bawa dia ke kubur walau belum waktunya
     
    jika ada orang ke kampung kami
    sambil elus tanah kami dengan doa tulus
    antar dia ke pintu eden, pada waktunya
     
    kami datang dari udik
    mama biang iris tali pusat bumi
    pakai sembilu
     
    kami tahu, kami berdiri di garis tepi kesunyian
    kami telungkup di halaman belakang ketertinggalan
    kami sedang berjalan di jalan pincang ketidakadilan
     
    kami curahkan tetes-tetes syair kampungan ini
    di atas daun-daun keladi dan daun-daun salam
    di bawah pohon damar dan kenanga terakhir
     
    kami percaya, dari seribu anak kami yang ke kota
    kelak ada satu-dua anak kembali ke kampung
    mereka akan menjelma anak-anak baboso
     
    di atas tanah-tanah baboso
    orang kampung akan jaga isi tanah
    agar pohon seho terus tumbuh ke langit
     
    dari sana, orang kampung kirim rampa-rampa
    padi, ubi, sayur, kelapa, gula merah, ikan, ternak
    agar orang kota kenyang, bahagia, walau lupa kampung
     
    dari sana, orang kampung kirim kayu ke kota
    agar dibuatkan rumah kayu dan ranjang kayu
    tempat orang kota tinggal bulan madu, walau lupa kampung
     
    kami orang kampung
    sekali udik tetap udik
    orang kota sebut kami kampungan, anjay!
     
    Jika dicermati, puisi ini adalah puisi terpanjang di dalam buku puisinya, meskipun pada keseluruhan puisi di dalamnya tidak ada sesuatu yang baru, secara tematik dapat kita terima sebagai buku puisi yang memiliki visi untuk mengangkat harkat dan martabat Maluku, khususnya dan mengedepankan isu kemanusiaan pada umumnya yang sejak awal memang dititik fokuskan oleh penyair, seperti kebanyakan penyair-penyair yang terdahulu. Bila peran puisi sebagai penyampai untuk mencerahkan, maka masih bisa mencerahkankah puisi-puisi yang ditulis dalam kenyataan publik puisi yang semakin menderas. Seiring dengan kemunculan penyair-penyair yang bisa menulis secara spontan, otomatik, cepat dan instan. Sebab, jika menelisik lebih jauh, Oppa Rudi Fofid tidak hanya sekadar mengenal Maluku, ia pun semakin jauh menjelajah isu-isu politik yang terjadi di sana.

    Pada buku ini, penyair tak ingin hanya menulis ihwal-ihwal kecil yang sering ditemukan di sekitarnya, misalkan ikan, pasir yang menyiratkan laut atau pantai yang sering di jumpai di sana. Ia terkesan sulit untuk melepaskan diri dari realitas yang terjadi, sebuah fakta yang tidak melampaui imajinasi seperti yang sering dilakukan oleh penyair-penyair sekarang ini, mengedepankan sisi kreatif pada bahasa sehingga puisi yang tercipta menjadi imajinatif. Namun, puisi-puisinya selalu mewaspadai kenyataan, menyerap kenyataan, lalu dihamburkan kembali untuk diketahui publik, bahwa dunia imajinatif puisi semestinya membuat utuh sikap kemanusiaan yang sesungguhnya dibutuhkan dalam tatanan kehidupan sosial di dunia ini.

    Realitas puisinya pun bisa kita temukan pada puisi ‘Masjid dan Gereja’ yang ditulis di Ambon.
     
    bangun bangun bangun
    kalau mau bangun masjid
    bangun saja tinggi-tinggi
    asal saja ujung kubah
    tidak lukai burung-burung gereja
    sebab jika darah burung tumpah
    tubuh masjid akan kuyup merah
     
    bangun bangun bangun
    kalau mau bangun gereja
    bangun saja tinggi-tinggi
    asal saja ujung menara
    tidak tusuk bulan dan bintang
    sebab jika bulan bintang jatuh
    badan gereja akan dihujani meteor
     
    Jika membaca biodata penyair pada bukunya, tentu saja menulis puisi-puisi yang berdasarkan faktual memang menjadi pilihan, Oppa Rudi Fofid bekerja sebagai wartawan yang telah cukup lama aktif di dunia sastra, khususnya sastra pergerakan. Ya, keberhasilan menciptakan puisi yang berkarakter, seorang penyair tidak hanya duduk di beranda rumah, menyeruput kopi sambil menghisap rokok. Ia, batinnya harus mengucurkan deras keringat, bergerilya mengembara, dan berdarah-darah. Batinnya, meski terjun bebas dari angkasa, atau memasuki dasar palung lautan agar dapat menangkap makna kehidupan untuk diserahkan pada dunia puisi.

    Namun, tantangan terberat bagi seorang penyair adalah dirinya sendiri; ia hidup dalam luka, tertawa di tengah penderitaan, menyaksikan ketidakadilan, dan lain-lain. Selain itu, dunia sastra memang keras dan kejam, badai kritik bertubi-tubi menerjang meskipun sikap masa bodoh tetap bisa menjadi pilihan. Untuk kuat, diperlukan keyakinan akan kepenyairannya. Sebab eksistensi kepenyairan tidak hanya pada buku puisi, pada redaktur puisi di koran atau sebuah komunitas sastra belaka.

    Sikap keyakinan itu bisa saja kita temukan pada sosok Oppa Rudi Fofid atau pada puisi-puisinya dalam buku ini. Untuk itu, membaca kembali buku ini diperlukan agar ditemukan kemungkinan tafsir-tafsir lain, bukankah memaknai puisi bukan sekadar pada satu pandangan tertentu? Ya, membaca buku ini, seperti mendengar ‘Suara-Suara Alifuru’.

    jika laut panggil nama, beta pasti berdiri
    tagal mata ina ama basah di rimba alifuru
     
    jika gunung panggil nama, beta pasti tengadah
    tagal tali nafas ina ama putus di lembah alifuru
     
    jangan ucap salam manis pada nusa ina
    jika perasaan alifuru masih tertusuk duri
     
    jangan kirim salam manis pada alifuru
    kalau suara nusa ina masih timbul tenggelam
     
    sio saudara-saudara, alifuru itu orang merdeka
    jangan sampai diinjak melulu di tanah pamali
     
    Januari 2022

     

    Nana Sastrawan, seorang penulis yang senang membaca puisi. Ia meraih penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan Republik Indonesia 2015.

    Penyair Maluku Puisi dari Maluku Sastra Ambon
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleLelaki Tua yang Tabah
    Next Article Puisi Vita Tri Utami, Fitriana Hardianti, Atek Muslik Hati

    Postingan Terkait

    Diksi Unik di Puisi Emha Ainun Nadjib “Doa Terampun Ampun”

    12 Desember 2025

    Burung dan Masjid—Dunia Alam dan Dunia Ibadah

    9 Desember 2025

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Muara Jambu Ciater Tempat Wisata dan Camping

    13 April 202610 Views

    Objek Wisata Djoyland Haurgeulis

    13 April 202617 Views

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 202655 Views

    Sensasi Wahana Banana Boat di Kuningan Jawa Barat

    12 April 202616 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (208)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (154)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.