Cerpen

Sebuah Pilihan

Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

Sebuah Pilihan

Emroni Sianturi

Garis telapak tagan tak beraturan. Menggaris ke samping, menggaris ke atas, dan menggaris ke bawah. Jika hidup diteliti berdasarkan garis telapak tangan, lalu untuk apa usaha dan doa dipanjatkan?

Orang-orang paling suka menebak hasil yang tak pasti. Entah itu hanya mengada-ngada atau memang telah dapat melihat takdir dari Tuhan. Sungguh, siapapun yang mendengarnya akan mudah terbawa, apalagi orang yang sedang keresahaan. Garis telapak tangan ada yang mengarah ke langit tengah, ke langit telunjuk, ke langit manis, ke langit kelingking, dan ke langit ibu. Lima langit telapak tangan mempunyai dugaan nasib masing-masing. Barangkali kau mempunya garis yang mengarah ke semua langit, barangkali pula dunia ini dapat kau genggam dengan mudah.

“Haha…” kupaksakan tertawa agar para kaum millenial ikutan tertawa juga.

Hidup ini memang sebuah pilihan. Kau yang memilih atau mereka yang memilihkan. Seorang anak muda tengah duduk membaca buku. Ia amati setiap lembar demi lembar berisikan gambar-gambar telapak tangan.

“Apakah kelak kamu akan menjadi dukun, anak muda?” Dipertanyakan mimpinya.

Anak muda itu menutup buku yang dibacanya dan kembali membukanya. Ada yang aneh pada tingkahnya dan setiap kata yang dilempar busuk kepadanya. Ia hanya diam dan kembali membaca buku. Ada apa dibalik buku?

Dibalik buku ada lautan kecil, di mana ikan-ikan, kerang, udang dan semacamnya terlukis di sana.

Semenjak lulus dari menimba ilmu di Madrasah Aliyah Nurul Islam bertempat di desa Kalibuntu, desa yang mayoritas penduduknya nelayan. Di kota kecil Kraksaan, kota yang berasal dari kata krasan. Ia habiskan dua tahun lamanya menjadi kuli. Bekerja bukanlah pilihannya, tetapi tuntutan hidup baginya. Dan, untuk dapat melihat harga diri dari seorang lelaki dapat dilihat dari kesehariannya bekerja: bekerja tetap!

Ya, bekerja jadi kuli. Nguli di tempat orang, di kantor, di toko, di lesehan, dan yang paling rendah nilainya di mata mertua adalah pengusaha gila. Membuka toko impiannya,yang didapatinya hanya kesepian dan caci maki. Memang begitu awal mula hidup, berawal dari kesepian, berenang di rahim ibu, lalu akhirnya dunia menyambutmu. Kau tatap dunia dengan dua bola mata rabun, perlahan hitam-putih, perlahan berwarna, dan perlahan pandangan dua bola matamu melihat dengan sempurna. Dan, pilihan hidup akan segera kau tuntaskan. Menjadi pemenang atau menjadi pecundang!

Untuk hidup memang tidak mudah. Keputusan yang kau ambil akan berujung pada takdir di masa depanmu.

“Pikirkan kembali kalau mau memutuskan pilihan, sudah kerja enak-enak malah berhenti. Mau jadi apa kau kelak?” Dipertanyakan kembali mimpinya.

“Kamu tidak akan menjadi anak kecil lagi. Pikirkanlah. Makin berjalannya waktu, makin bertambah usiamu. Sebentar lagi kamu akan meminang seorang gadis, lalu untuk mencukupinya. Dapatkah sebuah buku mencukupi kebutuhan rumah tanggamu?”

Langit senantiasa gelap, kala mimpi perlahan dibuka. Seorang anak muda menyimpan mimpinya dalam hati. Ia sembunyikan kepada dunia, dunia yang hingar-bingar hanya mengerti keberhasilannya sendiri. Impian seorang anak muda memanglah suci. Merawatnya tidaklah mudah, sebab waktu perlahan-lahan dapat menggeser arah tujuannya. Dan, menggapai mimpinya juga tidak mudah, sebab dunia tak pernah percaya dengan khayalan gila.

“Jika kamu punya mimpi, simpanlah baik-baik, Nak. Rawatlah sebagaimana pepohonan yang akan menjulang tinggi nanti. Kamu akan memetik lebatnya buah kerja kerasmu, juga manisnya keberhasilanmu. Tapi ingat, kamu jangan melupa. Asahlah kemampuan mimpimu sejak dini, karena bila kamu diamkan akan percuma, mimpi itu akan mengering dan mati. Hilanglah impian yang akan membawamu pada damainya hati, sebagaimana kebahagiaan yang kamu cari.


“Hari ini telah kamu putuskan mimpimu, arah tujuan hidupmu dan ke mana kelak kamu akan pulang! Keputusan adalah takdir hidup yang kamu pilih, tentunya tidak ada kata sesal di dalamnya, yang ada adalah pembelajaran menuju cita. Gapailah mimpimu, sebuah mimpi yang dipandang rendah akan menuai pujian yang mewah. Bersungguh-sungguhlah menjadi pemenang. Ketergelinciran seringkali terjadi, tapakkan dengan kukuh pijakanmu, lalui rintangan yang menjulang tinggi itu, mimpimu berada di ujung sana. Tetap genggam mimpimu erat-erat, dunia hanya boleh mengejekmu, sedangkan mimpimu dapat merubah pandangan mereka. Pilihan berada digenggaman pemenang, bukan kepada pecundang yang bertahan pada pilihan orang. Jadilah pemenang atas impianmu, anak muda” lanjutnya suara langit yang entah berasal dari mana.

Ratusan buku menumpuk di kamar tidurnya. Kesehariannya ditasbihkan dengan membaca dan membaca. Lalu bila malam tiba, tangannya tak henti mengetik-ngetik isi hati. Mata yang memerah kala kantuk menyerang—ia padamkan dengan secangkir kopi hitam pahit. Bersungguh-sungguh dan bekerja keras akan menuai hasil yang pantas dan sebuah doa akan menyempurnakan hasilnya.

***

Ribuan buku tertata rapi di ruang kecil dengan lebar 4×4 meter di sebelah ruang tamu. Lelaki dengan bewok yang mulai memutih tapi rapi, dan rambutnya yang dibiarkan memanjang sampai bahu. Ia tetap setia dengan kebiasaan lamanya mengetik-ngetik isi hati. Mata yang memerah kala kantuk menyerang—ia padamkan dengan secangkir kopi hitam pahit.

Ia telah beristri, anak bungsunya yang masih berumur dua tahunan sudah terbiasa keluar masuk sekadar dipeluk dan dikecup sebelah pipinya oleh lelaki berbewok rapi itu tepat di tempat duduknya dengan ribuan buku yang tertata rapi, di ruang kerja, ruang perpustakaan kecil, salah satu impian kecilnya yang nyata.

Dan…

Bila buku jatuh dari raknya, maka jatuhnya takkan jauh dari tempatnya memeluk buah hati.

Kalibuntu, 04-10 September 2018

26 September 2019: 11:17

cerpen sastra

Emroni Sianturi lahir di Probolinggo, Jawa Timur, 06 Desember 1995, tepatnya di desa Kalibuntu. Tamatan MA Nurul Islam Kalibuntu dan bergiat di komunitas Warna Sastra. Beberapa karyanya mulai tersiar di media cetak maupun elektonik, juga di buku antologi bersama: Kekasih sejati (Pram2ne Publisher), Sayap-sayap Kenangan (At Press Surabaya), dan Balada Cinta Orang Terkasih (Naa Publisher)

Leave a Comment