Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Ritus Laut Mempawah
    Puisi

    Ritus Laut Mempawah

    18 Juli 2021Tidak ada komentar3 Mins Read109 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Puisi dan peristiwa sangat erat ikatannya. Mengapa demikian, sebab pada proses penulisan puisi tidak lepas dari kegelisan penyairnya yang terhubung pada indra, satu di antaranya kegelisahan yang dilihat, bisa juga didengar. Peristiwa-peristiwa itu ditulis oleh dengan kata, dan bahasa-bahasa simbol sehingga menimbulkan bahasa yang metaforik. Itulah puisi, beberapanya ada pada puisi-puisi yang tayang kali ini. Selamat membaca. (redaksi).

    RITUS LAUT MEMPAWAH
    : Robo Robo

    Rabu tiba di ujung Safar
    orang orang menyusun bahagia
    di garis pantai yang tak tercium air
    pucuk pucuk kembang gugur dari genggaman
    diseberangkan ombak ke tubuh laut, bermain main dengan angin,
    menjelma doa paling dingin

    segala petaka diharapkan mengabur
    seperti kabut membungkus pagi
    menghilang disapu waktu
    meski serak tangis tetap diasuh sepanjang malam
    bernadakan ayat ayat permohonan

    setelah berlari ke laut
    menitipkan segala derita
    jembatan adalah panggung terbuka
    menerima sejarah setiap musim
    melalui sampan yang saling beradu sama lain
    tembang tembang salawat mekar, diiringi beduk yang menggelegar
    menambah kobaran api di dada

    seperti menanti senja
    mendung di kepala berubah warna
    ketentraman menjadi bait bait rindu
    melerai pikiran yang saling berseteru

    Kuala Dua, 2021

    SECANGKIR GELAS

    Dan kini
    secangkir gelasku terisi rupa-rupa air
    tuangan dari tangamu
    yang lenyap dari bayanganku

    sungguh ambyar
    kata-kataku mati di daun telingamu
    aku memungut luka
    di batinmu yang busuk
    lewat indah wajahmu

    yang kau pahami dari secangkir gelas
    hanyalah keinginanmu untuk meretakkannya;
    hingga pecah
    pun bening air yang kau aliri tubuhku selama ini
    membuat hari-hariku tenggelam
    dalam sunyi yang merdu

    Kuala Dua, 2021

    SETELAH KEHILANGAN
    : Hafidah

    Pada selembar malam
    bibirmu menyalakan api, Hafidah
    membakar menara cinta
    yang purba kususun saban harinya

    Apa yang mesti digenggam?
    barangkali puing harapan
    berserakan di ranjang pesakitan
    hingga mengerubungi kesepian tubuh

    Di rahim sunyi
    doa-doa seperti lampu
    mencoba menerangi sempit dadamu, Hafidah
    entah hanya sekejap
    atau selamanya gelap

    Namun kata-katamu semakin membeku
    tiada lagi mengusung cinta
    dan kepedihan semakin kuat kukulum

    Kuala Dua, 2021

    DARI ARAH JENDELA

    Dari arah jendela
    surga terhampar di kaki bukit
    dihinggapi burung burung
    disapa lembut angin yang dibasahi rerintik hujan
    kubayangkan bagaimana doa doa mengakar
    dari mulut kemiskinan
    yang menampung harapan di tangkai tangkai padi yang gemulai

    Kuala Dua, 2021

    Sholikin, lahir 23 Juni di Kubu Raya, Kalimantan Barat. Suka menulis puisi dan Cerpen. Puisi-puisinya pernah dimuat di berbagai media daring dan cetak seperti: Radar Cirebon, Pontianak Post, BMR FOX, PuisiPedia, Ma’arif NU Jateng, Rembukan, Metafor.id KamiAnakPantai. Serta Antologi bersama: “Merindu Indonesia” (berita esok hari), “Para Penuai Makna” (Dapur Sastra Jakarta). Sekarang aktif di Kelas Puisi Bekasi (KPB) dan Kelas Menulis Daring (KMD).

    penyair borneo penyair kalimantan Puisi dari Kalimantan
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleSecangkir Kopi Pahit tuhan
    Next Article Wanita Dekapan Semesta

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Menolak Pudar: Jejak Keindahan “Situ Lengkong Panjalu” Yang Tak Lekang Oleh Waktu

    18 April 202610 Views

    Pas Lebaran 2026, Reuni SDN Jajag Lor Kali, Juga Oke…

    18 April 202675 Views

    Harga Sebuah Kicauan: Sebuah Narasi Narsisme Antroposentris

    18 April 202639 Views

    Muara Jambu Ciater Tempat Wisata dan Camping

    13 April 202615 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (155)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.