Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Rapuh Mencari Jalan Pulang
    Puisi

    Rapuh Mencari Jalan Pulang

    12 November 2021Updated:20 November 2021Tidak ada komentar5 Mins Read81 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Joko Rabsodi adalah Penyair sekaligus seorang pendidik dari Pulau Madura, Jawa Timur. Puisi puisinya yang tayang kali ini terasa memang masih terkait dengan latar belakang Profesi sebagai Pendidik, sekaligus Penyair dari Madura.

    Sebagai Pendidik tentu memiliki jangkauan substansi maupun kaidah yang menggairahkan untuk ditelusuri pada setiap bait puisi-puisinya.

    Ada kata atau pun istilah yang perlu buka kamus pengertian atau minimal bertanya ke Google untuk mencoba mencari informasi apa maksud dari ungkapan yang tersemat di puisi, semisal kata: Botulinum, Harold knapke-ruth, kronos, al-burdah, sikintan, toor pekai, dan Audrey junic.

    Sebagai Penyair dari Madura tentu bahasa Madura juga mampu diusungnya dan di sisipkan dalam puisi, semisal kata: roma patobin, dan Samper.

    Istilah-istilah tersebut bisa memperkaya diksi di dalam puisi. Disamping itu juga mampu memberikan imformasi betapa luasnya pengetahuan seorang Pendidik sekaligus Penyair, maka pembaca pun diperkenankan untuk mencari informasi lanjut, jika ingin menelusuri misteri makna pada Puisi sang penyair Pulau Garam ini. Selamat menikmati. (redaksi).

    Aku Diam Seperti Kronos

    Dalam perihal ini perlu terus terang
    aku hanya kuasa menggenggammu dalam mimpi
    bukan dalam buntalan cinta yang mengambang
    rasanya sulit dipaksakan untuk membawamu ke musim yang lain
    sesuatu yang mustahil, matahari yang kehabisan sinar
    kuganti redup dupa di tengah-tengah perselisihan
    adat kampung yang tak kunjung redam
    aku dan kamu replika kromosom tua
    yang takkan pernah ditulis karena tinta purna
    untuk menyusun bait-bait purnama setelah siang
    kehabisan kata-kata

    Radeena, bisa saja kita bertemu di suatu meja makan
    atau di mana pun tapi kondisi sudah tersuruk lesu
    jamuan yang tadinya berharap jadi tumpukan reklame
    khusus merekatkan hati justru menggigil satu persatu
    meski wajahmu masih dalam dekapan mimpi
    dan terkadang kuimpikan kemarau untuk membajak
    setiap lelaki yang ingin berteduh di bawah tidurmu
    kau berupaya melesat meninggalkan lara
    sayapku patah tak kuasa mengawan

    Radeena, skenario yang kita unggah untuk menggores rindu
    semula dingin-dingin saja, semenjak ibu-bapak menghangati cuaca
    dengan sumpah yang ditandukan ke dalam dadamu
    pelan-pelan kau bakar botulinum dan aroma sianida
    ke dalam kisah Harold knapke-ruth yang haru
    sejak itu kau memintaku diam seperti kronos
    memakan cintanya sendiri
    kerap tidak ada kabar yang engkau kirim
    senantiasa aku gelisah menebaknya
    -kita masih pacaran atau mati tanpa pemulasaran

    Andaikan toh aku mati dan jasad menyebutnya pahlawan
    batu nisan takkan terima, orang-orang sekitar akan berbagi prahara
    tak pantas seorang lelaki muda mati tanpa ekspektasi
    tapi inilah keputusanmu, seperti benda padat yang tak bisa
    menyeduhi bentuk bangun ruang

    Madura, 10 agustus 2021

    Perempuan Desa Dekat Jumat Manis

    Kamis atau mendekati jumat manis
    perempuan desa menjumput matahari ke dalam pusara
    tangis hangus diantar adzan tandai pertemuan telah usai
    maghrib bergetar menyambangi kamboja
    bekas al-burdah di telinga kanan-kirinya menyerapi
    kaki yang makin keras seriring microphone
    menyampaikan duka mendalam

    Semua berdiri dalam sesengguk tangis
    termasuk anak lelakiku yang dibesarkan
    tak mampu mengulas
    kata-kata telah diganti airmata

    Engkau sudah besar sekarang, anakku
    pesannya kemarin engkau jangan jadi sikintan
    atau semacam legenda batu menangis
    perempuan desa itu tak lagi kuat memeluk
    bisikkan ke dalam lamunannya dengan segala cinta
    yang dialirkan ke rongga napasmu
    dialah perempuan yang menjaring matahari di tepi pagi
    mengukus bulan tengah malam demi menuntaskan
    ikhlasnya padamu

    Anakku, perempuan desa itu tentu tak siap berujar
    senyumnya tetap mengembang di antara batu nisan
    ia mirip toor pekai dalam kisah malala yousafzai
    yang meluluhlantakkan

    Anakku, kini ia tak ingin diganggu
    sendiri menyepi sembari memungut doa
    dari jejak fajar yang hengkang

    Madura, 12 agustus 2021

    Rapuh Mencari Jalan Pulang

    Cukup lama bersanding dalam ceritamu
    satu kerinduan yang tak pernah berhenti
    menikmati pendar bidadari lepas
    dari kremasi rambutmu
    setiap kisah yang kau sanggul
    pasti kuaminkan sekedar berlama-lama
    dalam penantian panjang
    -satu ketulusan Audrey junicka pada papanya

    Masih kau lanjutkan kisah melintasi tarian moyang
    roma patobin[1] letih memikul usia dan hendak dipugar, tukasmu setelah
    menjelang pukul sembilan malam
    tak terasa tiga jam duduk kita tanpa makna
    tak kutemukan jeda untuk mengunduh di mana hatimu
    menyimpan namaku
    kebiasaan yang kusesali dari setiap perempuan yang telah
    berkembang wanginya; menyisakan kebencian mencorat-coret
    dunia fana

    Ini bukan semestinya, tulang rusuk yang kau pinjam
    tempo lalu telah berganti warna
    kau dibesarkan tanpa rasa malu dan mencuekkan
    setiap rindu yang datang
    praduga yang kubangun terkoyak gemuruh
    dan rapuh mencari jalan pulang
    hidup seperti menuju kematian

    Di tanahku langit berkabung
    menyematkan penyiksaan
    udara menutup diri dari cahaya
    lagi-lagi kutapaki traumatika dalam sepatah kata
    ;saatnya qodratmu meratapi penyesalan

    Madura, 13 agustus 2021

    Kematian Tanpa Kisi-Kisi

    Kemarin siang engkau masih membelai rambut kedua anakku
    menyisir nyanyian tumbuh di belantara usiamu yang hampir
    60 tahun, tembang kancil dan romatika nina bobo kau putar
    mendayung masa kanak entah mau dibawa kemana
    petuah bersambung mengaitkan jiwa untuk berkunjung
    ke peradapan yang agung
    dipeganglah kedua jari anak-anakku seakan berikrar
    untuk tetap hangat dalam angin dan dingin dalam perapian

    Emak, jangan kemana-mana dulu
    sebelum sajak anak-anakku tuntas menganugrahkan singgasana
    kebahagian itu untukmu dan patut bersenggama dalam
    wujudmu, aku tak mau lagi derita hurrem dan suleiman
    mendiami petang dan terentang di sekujur mimpi
    dan akhirnya terbakar tanpa abu
    sia-sia menggebu

    Kematian yang tiba-tiba
    laksana terompah mimpi
    pergi tanpa kisi-kisi

    Kaget. Terjerat samper[2] bermotif coklat menutup auratmu
    kidung yaa sin berhamburan membalut kedua tangan yang lemas
    tangis hancur membedah ashar yang belum selesai
    mengapa kau ciptakan mantra yang bisu ketika anakmu dan anak-anaku
    meringkuk di ujung kaki
    siapa yang akan menghapusnya, kata-kata hampa tertutup luka
    senandungku hilang di atas gundukan makam yang menghadang

    Emak, kami ikut berduka
    di atas puisi yang mengentalkan jasadmu
    kami telah melupakan dosamu
    dan menyisipkan persaksian baik untukmu!

    Madura, 15 agustus 2021
    [1] Sebutan rumah induk dari sesepuh juga dikenal tongguh
    [2] Dalam bahasa jawa disebut jarik.

    Joko Rabsodi, lahir di Pamekasan, 11 Juni 1981. Kini tercatat sebagai pengajar di SMA Negeri 4 Pamekasan, Madura. Karyanya terbit di beberapa media massa nasional seperti Horison, Bali Post, Pikiran Rakyat dan lain-lain. Puisi terbarunya terkumpul dalam antologi “Palestine and Humanity” terbit 2021. Tahun 2021, juara II lomba cipta puisi Ft Sosiawan Leak.

    penyair madura puisi indonesia sastra puisi
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleLegenda Baturaden
    Next Article Iblis di Kepala Jalu

    Postingan Terkait

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025

    Berbagi Rasa Proses Kreatif Menulis Buku

    18 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Burung dan Masjid—Dunia Alam dan Dunia Ibadah

    9 Desember 20252 Views

    Puisi yang Segar untuk Mesin-Mesin Lapar

    3 Desember 202514 Views

    Ketika Bahasa Tegal Hampir Padam, Sastra Tegalan Menyalakan Api

    2 Desember 202510 Views

    Jika Cinta Datang: Tunduk dan Menyerahlah

    1 Desember 202510 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (158)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (77)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (187)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (22)
    • Sosial Politik (29)
    • Sosialita (142)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.