Sosialita

Rahasia Panjang Umur

Rahasia Awet Muda
Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

Rahasia Panjang Umur

Saya tak tahu sampai kapan hidup saya akan berakhir? How? Where?I don’t know. Bagaimana saya akan wafat? Kapan? Dan Di mana? Saya akan wafat karena sebab alamiah, kah? Semisal sakit karena tua? Atau Saya akan mati mendadak, karena kecelakaan, misalnya? Saya tak berani membayangkan. Tak tahu dan tak akan pernah tahu. Karena balik lagi.. Itu semua rahasia Ilahi. Rahasia Tuhan Yang Maha Kuasa.

Jika boleh memilih… Tentu aku ingin berumur panjang. Kalau pun aku harus mati mendadak karena kecelakaan, misalnya? Aku maunya wafat meledak di atas pesawat. Paling-paling ngerinya sesaat. Sekian belas menit? Lalu.. Blast! Aku jadi butiran debu. Tetapi… pasti ada uang yang akan didapat. Pihak maskapai penerbangan akan memberi santunan. Apalagi jika kita punya asuransi? Double-double deh uang untuk ahli waris. Resiko tidak enaknya mati karena kecelakaan pesawat adalah? Well, kita nggak punya batu nisan. Karena tidak ada jasad utuh jika meledak dari pesawat. Jarang-jarang. Hah? Kok saya berpikir hingga ke sana? Ya, kenapa nggak? Semua orang akan wafat pada akhirnya. Semua yang hidup pasti akan mati. Semua yang berawal, atau semua lahir pasti akan berakhir. Tak ada yang abadi di muka bumi ini… Darling. Kita semua menuju ke sana, kok.


Umur panjang menurut usia rata-rata hidup orang Indonesia adalah sekitar 70-an tahun. Jika saya bisa hidup mencapai umur segitu? Saya pasti bersyukur. Dan semoga dalam keadaan sehat. Maksudnya, daku nggak mau juga jika bisa hidup sampai tua dan umur panjang, tapi sakit-sakitan? Itu mah enggak enak juga. Sakit-sakitan di masa tua? Sendirian pula? Iya, kalau masih punya pasangan? Iya, kalau anak-anak akan sayang dan mengurus? Kalo tidak? Oh…

Entahlah apa yg salah di sini? Tapi kebanyakan orang-orang Indonesia. Wafat sebelum usia itu. Ada juga sih.. Yang bisa hidup hingga 80-an. Tapi tak banyak. Apalagi mereka yang tinggal di kota. Sometimes.. Usia baru 50-an pun sudah banyak yang di rasa. Asam urat lah. Encok lah. Tensi. Diabetes. Kolesterol. Dll. Lalu lutut sakit alias pengapuran. Saraf kejepit di pinggang lah. inilah. itulah. Dll. Kawan kakakku semasa SMA yang wafat sudah lebih dari 35 persen. Kebanyakan karena jantung dan stroke. Jika ditelisik penyebabnya? Mereka rata-rata perokok berat dan senang makan bersantan dan gorengan. Sementara Kalau aku liat di Eropa? Banyak orang-orang yang sudah senior or manula masih sehat dan bisa jalan-jalan. Banyak usia di atas 80-an, masih sehat sehat saja. Mereka jalan-jalan di pasar tradisional. Daku temui mereka di supermarket-supermarket. Gereja-gereja. Taman-taman. Dan banyak lagi. Tahu kan Pangeran Phillip suaminya ratu Elizabeth? Beliau usianya 99 tahun waktu tulisan ini terbit. Beliau baru saja pensiun dari 1200 lebih yayasan yang dinaunginya dan mereka baru saja merayakan hari ulang tahun pernikahan yang ke 75. Hebat.

Mati Muda Menjadi Hal Biasa

Sepupu kawanku meninggal ketika berusia 35 tahun. Gagal ginjal. Tetangga kawanku wafat di usia 45 tahun. Gagal jantung. Semasa hidupnya beliau adalah ayah dari 3 orang anak, arsitek, sering begadang malam dan menghisap setidaknya dua bungkus rokok setiap hari. Keponakanku sendiri, laki-laki, wafat di usia 32 tahun. Almarhum wafat setelah terdeteksi kanker otak 4 bulan sebelumnya, sudah stadium lanjut.. dan wafat sebulan sebelum peringatan setahun pernikahannya, dan seminggu sebelum anak pertamanya lahir. Sedih? Tak usah ditanya.

Belanda dan Panjang Umur

Adikku menikah dengan orang Belanda. Mertua perempuan adikku sudah berusi 89 tahun. Ingat, nyaris 90 tahun. Tapi masih bisa ke Indonesia naik pesawat, sendirian pula. Mampir ke Jakarta beberapa hari lalu tinggal di Jogja. Karena beliau punya rumah di Jogja. Pokoknya setidaknya dia bolak-balik ke Indonesia dua tahun sekali. Di Belanda, beliau tinggal terpisah dari anak-anaknya dan di temani hanya oleh tiga ekor anjingnya. Rumahnya rapi dan bersih dan bersuhu hangat. Dia masih main binggo seminggu dua kali. Kamis dan minggu bersama kawan-kawan manulanya. Dia sehat? Setidaknya secara fisik yang aku lihat. Ingatannya masih baik meski sedikit harus keras kalau bicara dengan beliau. Kami masih ngobrol kalo bertemu. Daku sering berkunjung jika kebetulan ke Belanda. Dan beliau selalu membuatkan saya teh hangat yang enak. Apa rahasia sehatnya? Saya tak paham. Yang pasti sepuluh tahun lalu pun dia masih sangup membenahi kolam di tamannya sendiri. Pun ketika Membangun sebuah garasi yang hanya dibantu anaknya. Dia cekatan mengaduk semen dan bolak-balik dorong bak beroda berisi pasir. dll. Amazing. Saya tahu pasti karena pada saat itu saya sedang berlibur ke Belanda sambil menjenguk adikku yang baru keguguran lima bulan (Jika berhasil lahir akan menjadi anak ke tiga).

Apa karena di Belanda dan negara-negara di Eropa sedikit polusi? I dont know. Oh ya.. Adikku sudah 20 tahun tinggal di Belanda. Aku sendiri bolak-balik Eropa setahun dua kali setidaknya. So.. sedikit banyak aku bisa  melihat perbedaan gaya hidup antara orang-orang di sana dengan orang-orang di sini. Termasuk kebiasaannya.

Disini? Di Indonesia? Seperti yang sudah saya tulis di atas. Jarang-jarang ada manusia bisa berumur panjang. Banyak kasus di usia 50-an pun sudah gagal ginjal dan harus cuci darah. Jantung di ring pada usia 50 tahun? Itu banyak. Minum obat pengencer darah. Cek lab 3 bulan sekali. Minum obat anti kolesterol. Dll. Dll. Apa yg salah? Saya tak paham.

Maybe orang di sini males bergerak? Maybe

Di Eropa sana jarang ada pembantu. Orang sana apa-apa mengerjakan sendiri semuanya, khususnya pekerjaan rumah tangga. Di sana, laki-laki dan perempuan adalah sama. Equal. Mereka kerjakan hal-hal bahkan urusan rumah tangga. Di Eropa? Pria pintar memasak dan membereskan rumah? Itu biasa. Perempuan di sana tahu bagaimana cara kerja mesin rumput dan bisa ngebor tembok pake mesin? Juga bukan hal yang aneh. Di sana laki-laki dan perempuan diajarkan hal yang sama. Di Indonesia? Jarang. Coba aja suami kita disuruh masak? Mungkin dia pingsan. Atau aku yang seorang perempuan, harus memotong dahan pohon di samping rumah? Aku juga bakalan semaput. Ngga bisa. Lelaki biasanya berurusan dengan mesin, alat-alat elektronik, dan mencari uang. Sementara kita para perempuan adalah berurusan dengan dapur dan urusan rumah tangga plus anak. Biasanya lho yaa… engga semua sih… tapi kebanyakan begitu.

Mereka (khususnya di Belanda yang saya lihat) kemana-mana banyak yang mau berjalan kaki atau naik sepeda. Di sini? Mana mau kita? Jarang. Ke mana-mana setidaknya pake motor. Naik motor meski hanya untuk membeli sebungkus rokok ke warung. Udah sedikit atau bahkan jarang, yang mau naik sepeda ke pasar atau ke sekolah. Apalagi berjalan kaki. Ke sekolah yang jaraknya cuma satu kilometer dari rumah aja? Kudu naik motor atau mobil. Nanti jika udaranya sudah terpapar polusi dan macet dimana-mana? Stress? Tinggal  menyalahkan pemerintah.

Sama kayak aku sih.. Aku pinter menulis untuk menilai sesuatu? Secara aku sendiri juga pemalas. Aku bahkan naik mobil hanya untuk beli seikat kangkung ke pasar. Aku juga jarang mengerjakan urusan rumah tangga. Bangun tidur subuh? Jika lagi rajin? Aku pasti sembahyang dulu. Tapi kebanyakan? Ritual pagi aku adalah buka gadget. Liat pesan pesan yang masuk bahkan mengintip medsos. Oh.. Sempat-sempat nya.

Rahasia Awet muda

Herannya, di Belanda.. Aku bisa sibuk. Setidaknya ikutan sibuk. Kemana-mana aku jalan kaki. Nggak cengeng or mengeluh. Aku lihat adikku badannya selalu gerak. Masak, benahi rumah, mencuci dan mensetrika. Suaminya bagian urus kebun dan antar anak-anak les bola yang agak jauh dari rumah. Atau hal-hal yang berkaitan dengan sekolah plus tugas-tugas PR nya. Adikku masih sempat bekerja partime, 5 jam sehari di cafe yang tak jauh dari rumahnya. Bekerja di cafe di sana itu artinya : Dia harus siap menggoreng kentang, mencuci piring, bersihkan meja-meja pengunjung dan merangkap jadi kasir juga. Karena di sana, pegawai itu artinya multi tasking. Apalagi jika hanya café kecil. Kamu merangkap semua dan harus bisa semuanya. Kasir juga, chef juga, waiter iya… bagian bersih-bersih juga. Sepulang bekerja adikku masih sempat memasak dan siapkan dinner untuk keluarga. Rumahnya selalu rapi dan bersih padahal dua lantai. Aku mana bisa seperti itu? Pingsan iya. Aku di rumah, punya asisten rumah tangga yang jumlahnya minimal dua orang. Kids juga ada drivernya.  Ayahnya mereka juga punya driver sendiri. Meski saya tidak punya driver khusus sih… saya masih sanggup menyetir sendiri. Toh, saya tak banyak aktivitas di belakang setir mobil. Dan masih mending juga karena sekarang ini saya mulai mau kemana-mana pake KRL atau kereta api commuterline. Dulu, saya mana mau. Naik kendaraan umum? Ogah. Karena keadaan lalu lintas Jakarta dan sekitarnya udah benar-benar bikin stress. Dari rumahku yang di Tangerang Selatan bisa dua jam hanya untuk ke daerah Kuningan, misalnya. Buat saya? Itu sama aja bikin sakit jiwa jika masih mau setir mobil sendiri. Please dueeh

Lalu aku cemburu sama adikku. Usianya hanya berbeda 5 tahun denganku. Tapi badannya masih langsing. Konon timbangan hanya naik 3-5 kg dibanding semasa gadisnya dulu. Padahal dia sudah melahirkan 2 kali. Normal pula. Jadi ketika semasa gadis timbangan dia adalah 45 kg? Saat ini setelah punya dua anak bujang-bujang handsome pun? Timbangannya nggak pernah lebih dari angka 50. Seringnya 48-49 kg. Beuh. Bandingin sama timbangan saya? Ya ampyuun

Saya waktu gadis beratnya cuma 45 kg. Ringkih banget kalo di banting-banting pas les karate. Daku juga engga diajak gabung group volly di kampung gara-gara tulang hasta ku kecil menurut mereka. Ampun. Wkwkwwk. Pas hamil? Minggu-minggu pertama cuma naik sedikit sih, tapi ketika hamil semester ke tiga? Mulai deh… Beratku naik 23 kg pas melahirkan. Dan ketika menyusui? Bukannya turun malah nambah lagi 3 kg. Turunnya lama. Dan sampe hari ini bonus 10 kg nya tak mau hilang. Alias. Sekarang beratku tetap di angka 55 kg. Meleng dikit. Langsung 57 kg, bahkan sering kejadian 59 kg malah. Duh. Kalo sudah demikian? Aku mulai stress, miggrain. Nahan makan. Ikut diet berhari-hari ngga makan sembarangan.Biasanya ngga sampe sebulan, daku sakit. Langsing nggak kena maag mah iya. Hadeuuh….

Apa pun yang aku lakukan? Rasanya… aku… tak bisa lagi selangsing waktu gadis yg cuma 45 kg. Ini aja udah bersyukur banget. Butuh 8 tahun untuk buat beratku dari 68 kg ke 55 kg. Beuh.

Di Belanda saya lihat adikku naik sepeda kemana-mana. Ke pasar, ke rumah kawannya, bahkan waktu jemput aku ke stasiun. Daku dibonceng. Pertama kali dibonceng naik sepeda oleh adikku? Aku ngakak-ngakak hingga adikku bengong sendiri. Karena itu semua bukan bercanda. Aku memang dijemput adikku pakai sepeda. Jarak dari stasiun ke rumah adikku sekitar 2 km. Akhirnya aku berhenti ngakak dan pasrah termasuk ketika koper ukuran kabinku disimpan di keranjang depan. Dan aku harus mau dibonceng. Itu hanya perjalanan yang akan makan waktu 6 menit. Cuma dasar aku pemalas atau manja? Or maybe norak? Beberapa kali aku ganti posisi duduk. Aku nggak nyaman. Jangankan mengayuh sepeda di depan? Aku duduk dibonceng pun? Aku tegang. Punggungku jadi kaku dan sakit sendiri. Karena aku duduk menyamping dan tegang selama perjalanan. Haduh.

Well.. Mau bilang apa? Bersepeda di sana adalah normal. Secara di Indonesia? Sepeda justru menjadi seperti fashion. Seperti olah raga mahal dan gengsi. Ada baju dan peralatan khususnya. Penunjang untuk selfie sekaligus gaya. Ceritanya untuk safety nya lah. Di sini sepeda bukan kebutuhan bagi banyak orang. Bahkan kesannya jadi eksklusif. Karena lahirkan komunitas-komunitas bersepeda. Orang lalu membentuk group-group bersepeda yang rutin melakukan sepeda bareng seminggu sekali misalnya. Bagus sih… keren. Banyak juga lho.. Beberapa orang yang lalu memakai sepeda sebagai alat transportasi ke kantor. Tapi rentan ditabrak menurutku. Aku nggak berani. Ada tetanggaku yang wafat dengan stang sepeda tembus dari rahang ke leher karena di tabrak pengendara mobil yang tak bertanggung jawab. Beliau wafat dengan meninggalkan dua anak dan istri yang dalam keadaan hamil. Ini true story. Meski sekitar lima tahun lalu kejadiannya. Bersepeda di Jakarta juga harus bermasker tebal jika kita tak ingin menghirup gas-gas beracun polusi penyebab penyakit pernafasan bahkan merusak kecerdasan otak janin jika dihisap wanita hamil.

Kok, jadi urusan naik sepeda? Apa hubungannya dengan umur panjang? Ah.. Aku melantur lagi. Pokoknya aku hanya membanding-bandingkan saja. Mengapa orang di Eropa bisa berumur panjang tetapi tidak di negaraku? Terutama bagi penduduknya yang tinggal di kota-kota besar? Oh… I am so sorry… aku jadi merembet ke hal lain. Aku cuma membandingkan saja. Di sana orang bisa bebas naik sepeda karena udaranya masih sehat? Or memang sudah menjadi budaya? Di kita? Bisa sih, kita bersepeda. Tapi kita harus sabar. Karena kita belum di beri hak yang sama. Kendaraan bermotor dan PKL mengambil hak-hak kita sebagai pejalan kaki dan pesepeda. Sudah begitu harus maskeran pula. Karena udara pagi yg dihirup pun sudah tak sehat lagi. Asap knalpot dimana mana. So, Bersepeda jadi bagian gaya hidup kita di sini seperti gaya hidup banyak orang di sebagian benua Eropa? Rasanya sulit dan masih mimpi. Contohnya aku. Yang ke pasar beli ikan asin aja? Aku naik mobil.

Faktor Makanan

Soal makanan saya rasa juga ada pengaruhnya bagi kesehatan dan faktor panjang umur. Ketika di Eropa? Saya ikut menu dan pola makan mereka. Tentu saja di rumah adikku selalu ada nasi. Tapi ketika pagi hari untuk sarapan? Saya biasa makan sepotong roti dan secangkir teh atau kopi. Heran aku. Kok di sana saya bisa? Siang juga saya cuma makan sandwich. Malam hari atau dinner? Tentu kami makan sedikit berat. Saya makan nasi biasanya. Dengan lauk pauk ala Indonesia yang disesuaikan di sana. Coba bayangkan jika di Indonesia? Okelah, kadangkala aku pagi cuma sereal dan segelas teh. Tapi kan itu jarang-jarang. Hanya semangkok buah dan salad ketika sarapan? Itu seringnya hanya sesekali. Belum rutin. Percuma diet. Tak akan bertahan lama. kawanku banyak. Undangan hampir tiap hari. Arisanlah. Reunilah. Pengajianlah. Undangan sunatan. Undangan nikahan. Pertemuan dengan Ibu-ibu sekolah lah. Ngobrol-ngobrol dengan ibu-ibu tetangga lah. Teman-teman gaul lah. Dengan sohib lah. Pokoknya menu-menu enak dan terlalu bergizi hampir setiap hari mengisi usus-usus dua belas jari di perutku. Lord. Jika tak ada undangan pun? Setiap hari di komplek rumahku banyak lewat tukang makanan enak. Tukang bubur ayam. Ketoprak. Bubur kacang hijau. Bakso. Jika mau usaha dan jalan jauh dikit ke depan, akan ditemukan banyak tukang jualan lain. Pempek. Sate. Martabak. Dll. Itu bisa kita beli dengan mudah. Makan siang pun demikian. Jika malas masak atau kebetulan sedang di luar? Pilih saja mau makan apa? Soto ayam? Soto daging? Nasi Padang? Empal gentong? Masakan khas Sunda? Bakmi Ceker? Kwetiau? Pizza, Sandwich, Burger, bebek panggang ala Hongkong dll. Belum  lagi aneka minuman yang menggoda. Es campur. Es teler. Cendol. Cincau. Es puter. Es shanghai. Dan soft drink dingin. Lord. Belum lagi perut saya ini, perut orang Indonesia banget. Udah habis makan lontong sayur semangkok, bubur sum sum sepiring, ngegado kimlo juga, lalu rambutan setengah keresek, toge goreng plus siomay n ceker. Dan masih juga merasa belum makan jika belum ketemu nasi? OMG.

Rahasia Awet Muda

Di sana, orang juga tidak terlalu banyak makan makanan gorengan. Beda dengan di Indonesia? Yang murah meriah adalah gorengan. Di mana-mana gerobak gorengan terlihat. Saya punya pengalaman teman masa remaja di Garut. Waktu lulus SMP di bekerja di Pabrik Tekstil di Bandung. Belum 10 tahun bekerja dia pulang ke kampung hanya untuk dua bulan dirawat dan wafat. Mengapa? Konon komplikasi. Maklum, di Bandung dia hanya nge kost. Pagi hanya makan gorengan. Siang, hanya makan seadanya. Malam mie instant. Kalau pun jajan bakso? Tak jelas saos sambalnya. Juga cuka yang masam dan sambal cabai pedas penghilang ngantuk karena penat bekerja. Berapalah gaji buruh pabrik di Jawa Barat? Dia wafat saat usianya baru 26 tahun dan masih gadis pula. Saya sedih. Tapi mau dibilang apa? Ini Indonesia, bukan negara-negara di Eropa. Di Belanda, bahkan bisa dikatakan, bahwa negara itu ikut campur ke soal makanan untuk rakyatnya. Mie Instan asal Indonesia juga banyak dijual di sana. Herannya, rasanya beda dengan mie instan yang saya bawa dari Indonesia meski merek dan gram beratnya adalah sama. Konon pemerintah sana mengatur ingredients nya. Rasanya kurang gurih. Mie rebus atau  mie goreng nya, pokoknya rasanya lebih anyep. Sumpah. Saya  tidak bohong. Kawan-kawan saya di Belanda juga meng’amin’kan itu. Demikian pun dengan rokok kretek yang juga di jual di sana. Kebetulan suami adikku merokok. Sebungkus rokok di sana di banderol dengan harga 8 euro an atau sekitar 125.000 per bungkus. Tapi suami adikku bilang, rasanya beda. Jauh. Mungkin negara Belanda mengatur hingga batas-batas tertentu. Jangankan rokok, karena untuk mie instan pun mereka ikut campur, dengan alasan demi kesehatan rakyatnya. Sure. Bandingkan dengan di kita? Owh… kita boleh dan bebas-bebas saja memasukan batas kandungan zat-zat berbahaya, asalkan tidak ketahuan. Semakin gurih, suatu produk makanan, semakin terkenal dan laku malahan. Singapura konon juga sudah memberlakukan hal itu. Di mana kandungan garam pun sudah di awasi meski itu hanya seporsi masakan dari sebuah restoran. Kapan kita akan seperti itu? Semoga secepatnya.

Kembali ke menu makan pagi keluarga adikku. Mereka cukup makan roti isi untuk makan siang. Suami adikku ya seperti itu. Bawa bekal sendiri dari rumah. Isinya? Roti. Hari ini isi selai kacang. Besok isi keju dengan daging lapis. Lusa dengan selai coklat. Anak-anaknya juga begitu. Beda dengan suami aku. Makan siang menunya sate bang Irwan. Makan malam, steak ababa. Makan pagi nasi goreng. Sama kayak aku,deh. Hari ini makan siang mie Medan. Besok soto babat. Lusa makan makan ikan bakar Makasar. Makan malam kemarin gulai otak padang, hari ini sate marangi besoknya seafood. Bergizi tinggi? Aku nggak yakin. Tinggi lemak iya, secara daku malas bergerak. Oh Tuhan…

Lalu saya membandingkan tubuhku dengan adikku? Dengan tubuhnya yang masih langsing. Secara saya? Tapi itu salah saya sendiri. Seperti saya sudah tulis di atas tadi. Di rumah, saya punya dua orang asisten rumah tangga yang mengerjakan semuanya. Seluruhnya. Mereka yang mencuci, menyapu, mengepel, menyetrika, bersihkan kamar-kamar. Pokoknya semua. Bahkan memasak meski kadang-kadang.  Ada om supir juga yang membantu mengantarkan anak-anak saya sekolah. Plus ada tukang kebun langganan untuk bagian rumput dan memotong dahan-dahan. Padahal, jika dikerjakan sendiri? Berkebun itu menghilangkan stress dan membuat tubuh berkeringat hebat. Saya sudah buktikan. Jika musim rambutan tiba. Saya naik ke atas pohon. Membawa galah. Bidik sana bidik sini, mencari buah rambutan yang sudah masak dan siap untuk dipetik. Betapa my adrenalin terpacu sangat hingga menghasilkan keringat. Bagaimana tidak? Kaki kita harus menapak hati-hati di dahan rambutan yang mudah patah. Mata dan pikiran fokus bagaimana tangan memegang galah panjang nan berat, lalu kaki yang harus menahan badan, agar tidak jatuh.Tapi aktivitas itu jarang-jarang saya lakukan. Paling setahun sekali. Plus sehari-hari saya banyak dibantu asisten. So.. saya jarang menyentuh pekerjaan rumah tangga, saya malas bergerak dan pikiran selalu fokus kepada gadget. Secara saya maunya makan enak. Lalu saya berkhayal bertubuh langsing langsing seperti adikku? Darimana rumusnya, kan?

Stress Adalah Faktor Perusak Kesehatan

Faktor penentu umur panjang yang lain? Aku nggak paham. Ini Indonesia. Penduduknya 265 juta jiwa. Televisinya riweuh. Beritanya heboh. Medsosnya jadi ajang politik. Hoak and fitnah bertebaran, propaganda dan buzzer masing-masing ada di mana-mana. Jaman now, jaman kekinian, segala hal  tergantung gadget. Bangun tidur yang dilihat pertama? Gadget. Mau tidur? Benda yang dilihat terakhir? Gadget. Saling bully, saling serang, saling ribut and heboh. Dari mulai kuli panggul hingga anggota dewan terhormat? Kasih statement yang bikin otak orang lain mendidih. Menonton acara sinetron? Apa yang bisa diambil hikmah? Paling-paling story nya tentang azab istri judes yang tak punya hati. Hihihi. Lihat infotainment? Apa? Artis A libur ke luar negeri. Artis B nikah dapat mas kawin 40 milyar. Or artis C yang kemana mana naik jet pribadi. Artis Z sedang umroh sekeluarga. Coba….? Apa nggak bikin penontonnya semaput karena cemburu? Pelariannya? Ke makanan lah…

Buka instagram? Podo wae. Si artis anu lagi rayakan ulang tahun pesta anaknya yang ke 4 tahun di hotel bintang 5. Atau… si artis B lagi belanja di Eropa. Artis nganu tas bermerk nya satu lemari. Artis ngono rumahnya mewah tidak hanya berkolam renang tapi pake lift juga. Mungkin sekalian ada eskalator? Coba? Gimana kita bisa waras melihat itu semua? Boro-boro bisa panjang umur. Bisa sehat dan tidak kena stroke hingga usia 55 tahun saja, sudah bagus.  Ulala.

Bicara soal lain terkait ingin panjang umur bagi manusia yang tinggal di kota-kota besar di Indonesia semacam saya? Adalah susah-susah gampang. Medsos nya gaduh jika tak mau diisi saling pamer or hujat. Jalanan macet. Makanan kebanyakan Instant and berlemak. Goreng-gorengan. Buah-buahan mahal dan langka. Mana ada lagi sekarang orang punya rumah yang ber halaman? Punya tanah semeter dua meter saja sudah dibangun kos-kosan. Jaman baheula, kita cuma mau makan pepaya dan jambu biji merah yang sangat tinggi anti oksidannya saja, kan, tinggal memetik di halaman. Jaman now? Mimpi banget bisa punya halaman. Punya kamar tidur berventilasi dan berjendela saja sudah bagus. Sayur-sayuran yang murah pun mungkin hanya kangkung, bayam dan sawi. Jika tak hati-hati? Malah bisa zat purin penyebab asam urat. Mau protes? Protes ke mana? Salah pemerintah? Oh Tuhan…

Tertawakan Diri Sendiri

rahasia awet muda

Ujung-ujungnya kita senewen dan mentertawakan diri sendiri. Mau olah raga menghilangkan lemak dan stress? Bisa. Yang murah adalah jalan kaki pagi-pagi. Tapi kudu hati-hati. Subuh hari jika masih gelap? Bisa kena rampok atau ditabrak kendaraan meski tak sengaja. Nunggu siang dikit? Sudah bising dan membuat males. Banyak mobil wara-wiri dan bau kanlpot pula. Belum lagi jika kita pake baju olah raga seksi? Bisa-bisa kena pelecehan seksual. Orang kita mah, nggak bisa liat orang pake celana legging seksi dikit. Pantat terlihat demplon aja? Konon itu harom durhaka plus kena tatapan mata genit pria sekelas pinggir jalan, kadang. Mau ikut nge gym di Mal? Biayanya tak murah. Rata-rata harus member alias punya keanggotaan. Bayar pake kartu kredit pula. Minimal kudu debet rekening. Lalu biaya parkir sehari-hari plus jadi mampir jajan di café or resto kanan kiri. Kan setelah olah raga, biasanya jadi kelaperan.  Lah. Ini pengalamanku sendiri sih… so… Bukannya jadi langsing dan sehat karena olah raga di Gym, ini malah jadi tambah endud. Soal lain? Membeli perlengkapan pakaian olah raga plus minimal sepasang sepatu juga harganya tak murah, apalagi jika ingin bermerk, Oh Lord. Ngga jadi olah raga dueh

Dan aku harus menyudahi tulisanku perihal panjang umur ini. Balik-balik, bahwa segala hal itu adalah harus mulai dari diri kita sendiri. Mau pola hidup sehat atau tidak? Mau panjang umur atau tidak? Jangan salahkan orang lain. Segala hal itu… baik penyakit atau pun kesehatan adalah tidak terbentuk dalam hitungan menit, jam, hari, minggu atau bulan. Itu adalah butuh waktu tahunan. Penyakit? Tentu, dia datang tidak mendadak. Wafat karena tersumbat jantung atau pecah pembuluh darah di otak memang kejadiannya mendadak. Tetapi penyebabnya adalah pola hidup yang terbentuk lama. Sehat juga demikian. Orang tak semata-mata langsing karena sedot lemak. Karena yang benar dan baik adalah, ya itu tadi… campuran olah raga dan makanan… intinya… pola hidup sehat.

Oh ya… aku juga harus meralat tulisan tentang keinginanku wafat dari atas pesawat. Why? Money mungkin penting. Cuma.. jika nanti aku hanya jadi butiran debu? Kasian anak-anakku. Kasian mereka yang menyayangi aku. Karena nanti tidak ada makamku. Tidak ada batu nisan bertuliskan namaku. Oh Lord… maafkan aku. Doaku semoga aku bisa berumur panjang. Demikian juga mereka mereka yang kusayangi. Dan semua yang membaca ini. Salam sehat. Salam bahagia. (Cikeu)

Leave a Comment