Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Puisi-Puisi Jang Sukmanbrata 
    Puisi

    Puisi-Puisi Jang Sukmanbrata 

    18 Februari 2023Updated:18 Februari 2023Tidak ada komentar5 Mins Read0 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    DEWI PUISI DAN KESENIAN

    dewi puisi dan kakaknya itu
    dewi kesenian suka membantu  yang miskin dan teraniaya

    dewi puisi adalah ulat berbulu
    hidup di ayunan waktu, tidak menunggu
    di balik dedaunan kala basah
    di batu bolong tak berlumut
    di tembok tembok berlobang
    Pernah kamu bermimpi bulan jatuh?
    meski kadang lahir dari debur nafsu
    dewi puisi tetap mulia, tetaplah agung
    puisi bukan bulan pun rayap kayu
    apalagi kokok ayam jantan di pagi dini
    Dewi puisi mirip wanita pertama kali hamil, banyak maunya, samar rasa, kerap meringis

    kesenian ialah ular cobra
    jantan dan betina sama saja berbisa
    melarikan sakit dendam jutaan abad
    sebelum Adam tiba di benua Asia –
    Hawa di benua Afrika, Iblis Azazil
    di lembah garam Basrah
    Keduanya sarat cinta lugu menghadapi musuh,
    yang ketiganya makhluk dengki, penuh cemburu
    ular alat kemerdekaannya di dahan, di gua
    Dewi seni lahir pada saat Qabil  memuja api di malam tak berbintang
    dewi puisi lahir dari senyuman Tuhan
    (jangan bangga wahai kaum seniman! ini surga tapi jebakan  kehidupan kalian).

    Tak perlu bimbang, genangan rasa
    di cekungan jiwanya seperti kolam
    Dewa prosa penolong suka datang, agar kekaburan makna menjelaskan

    kesenian mencintai orang miskin,
    semua yang teraniaya dibela puisi
    sehabis tsunami, gempa sana sini, beras sisa sebutir, hewan pun ketir,
    setelah kebaikan berkeadilan hadir.
    Dewi puisi lahir di tanah air hidup sunyi
    Dan dewa prosa gemar makanan lezat
    sambut, lalu reguklah sepuas mungkin.

    /Citarum Rajamandala, 30/1/ 2019

    PENYAIR TAHANAN POLITIK

    : Amarzan Lubis sampai Martin Aleida

    Kesturi meski dirundung kabut, masihlah wangi,
    di jangkauan musim pendemi banyaklah gugur,
    ya gugur tanpa didedahkan menjadi lagu elegi
    tangan yang dulu dibelenggu menuju pulau Buru,
    garis-garis keriputnya berdenyut saat jadi saksi
    wajah-wajah itu menolak ditawan sejarah palsu
    Ya di jendelaku, di jendela siapapun terlihat kukuh, langkah gontai, rambut putih, tak menghapus nyali
    Taring orde baru kerap menembus tulang sumsum
    Kabar ibumu mati pun hanya dirajam rindu perih
    O pujangga bernyali hilang di tanah Melayu!

    wangi kesturi saksi berlembar-lembar kertas puisi
    ya penyair dibawah mega mendung,
    piring rangsum ditaburi racun,
    tapi kematian masih jauh, belum tunduk ke waktu
    segala yang hidup sebagian dicatat buku
    helai kesturi yang terakhir lepas bukan cinta sesaat tangkainya menyimpan harapan,
    Helai-helai telah siap terdakwa di atas gulma,
    tak ada percakapan di udara sarat khianat
    : aromanya berloncatan di senyap,
    dan tanpa pengadilan-sejarah dipendam
    Jika rantau bagai burung migran,
    terbang melintas lautan, bekerja di hutan Vietnam
    Puisimu berbicara situs kampung halaman
    : tanpa sinaran lampu ibukota dan bulan ngambang
    “Bapak Amarzan ada dimana waktu tentara tiba?” tanya wartawan muda.
    Tak menyahut, semuanya bungkam
    Negeri penuh bencana tiada lain tahanan politik bukan cakrawala kusam Indonesia, itu bunga mimpi
    Anak cucu kita masih terpasung di kotak besi
    “Kamu tak bisa apa-apa, hanya tangis.”
    zaman itu aromaterapi kesturi
    lebih berarti dari senyum gadis
    dan janji manis bupati pada si miskin
    sebab lepas tahanan – dianggapnya dosa itu pergi
    Jiwa sonder perkasa saat pena bersaksi
    : “kawan, jangan sebut aku penyair sepi!
    Begitu hasrat merusak hukum cacat,
    anakku kelak menjelma jaksa, meminta hakim Illahi hadir “.
    Kelak segalanya berakhir di ujung jari,
    Kemarin, penyair tahanan politik sudah mati,
    Larik padat puisinya terasa kini

    Bandung, 29 Oktober 2020

    JEJAK DI BATU KARANGKAMULYAN

    berlarian, berlarian anak dalam hujan
    menembus segala yang memercik indah,
    matamu teduh sekukuh gunung rimbun,
    bau kencur, bau lumut bercampur di daun
    buku jiwaku tersibak angin hutan
    musang, oh tak sopan di batu Karangkamulyan
    jejak kakinya berubah lumut batu
    di bulu bulu mataku terasa baunya lewat
    di mulut cukong tanah adat Priangan
    oh hina dina, memalukan peradaban.
    Tercatat, masuk kutukan moyang
    hujan deras tak bisa menghapus keringatnya,
    mata haus pujian, ya garisnya akan memudar
    semua ucap – tulisannya hilang,
    tak ada kenangan indah, buram
    Kesejatian memang perjuangan di hening
    buruannya penyair tawanan nurani

    hidup oh mimpi,
    menyesal pergi sendiri
    Kejujuran ibu dari seni, tak ‘kan mati

    berlarian, berlarian anak di hujan, senyap tiarap
    malamnya menuliskan cerita harian yang terang, remang, lalu gelap berseliweran
    terus, terus saja tulis kesaksian,
    gamang? Kebenaran bagai kuda di puncak sabana
    Bergegas meninggalkan kelam di hutan atas sungai

    Berlarian, berlari anak menembus hujan
    angin kabuyutan berhembus dari bawah pohonan
    serupa malam tak berbintang
    awan bisa jadi pedoman
    Berlari! Ayo ke dalam
    Tolak hidup tak keruan sebelum ajal tiba
    Mungkin godaan terbanyak adalah lupa.

    *Karangkamulyan : desa lokasi batu situs Lingga Yoni lambang peribadatan umat Hindu Sunda dan Bali di Ciamis.

    /Kabuyutan Nagreg, 9 Maret2022

    DI BAWAH POHON RIMBUN

    riakan kolam
    sunyi melelang hampa
    lumut bertahan
    menoreh tanah
    asal mula manusia
    oh rumah singgah
    sekali hirup dunia
    kampung kekal nirwana

    jalanan lempang
    guyuran hujan malam
    ih lembab perkasa
    cahya berlalu tenang
    sela rimbun pohonan

    di rumah lengang, di jalan ke hutan
    hikmah mengaliri sejarah, di gerimis,
    di padang terbuka, gunung kars situs terluka, di sawah kepungan rumah, dan padang pembantaian tercipta, darahnya – minuman segar petualang:
    Tak mungkin diolah jadi tinta,
    kini sinar dibikin alasan lapar,
    paparannya dengan aturan samar, gelap, membuang kuncup kejujuran.
    Gugur sebelum subur, tumbuh tenang.

    Sampurasun, ahuuung!
    aku terima adanya seperti hujan malam
    Perbincangan dibawah pohonan
    disertai ingatan keberadaan di tanah! Kepercayaan dibangun dari pertemuan !
    Buku sejarah di sekolah biar jadi bara, dusta itu api yang mudah dipadamkan
    Bila ada jelaganya, paling bisa untuk campuran warna tenun ikat.

    bergerak lindap
    menapak jejak samar
    adat tiada lain hutan jati di lembah
    jauh! jauh terjangkau sinar purnama
    dibawah pohon, perpisahan bermakna
    liukan akarnya terasa di jeda obrolan, ranting mainan angin mengajarkan;
    mengembalikan kasih sayang
    lebih berguna dari barang.

    #Kabuyutan Rajamandala, 3 April 2019

    Jang Sukmanbrata. (Satyariga Sukmanbrata) lahir di Bandung, 17 Agustus 1964. Karya puisinya beragam genre: di buku antologi puisi Negeri Pesisiran; 2019 & buku Antologi Puisi Negeri Rantau; 2020 & Raja Kelana; 2022-DNP. Sejumlah 30 haiku dan puisinya di koran PosBali 2019, koran NusaBali, puluhan karya puisinya di beberapa buku antologi bersama. Karya tanka dan haiku-nya di buku – buku antologi Newhaiku 2021, buku antologi 100 puisi HPI- 2021, puisi-puisinya di koran Pikiran Rakyat Bandung, dan di medcet lainnya serta tersebar di majalah sastra digital dan Fb.

    puisi kearifan lokal puisi sastra Puisi-Puisi Jang Sukmanbrata
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous Article200 Puisi Pilihan Lomba Cipta Puisi Grup Facebook Hari Puisi Indonesia 2022
    Next Article Ence Sumirat : Kehilangan Rindu

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi Wyaz Ibn Sinentang

    10 Mei 2026

    Puisi-Puisi Alfiansyah Bayu Wardhana

    12 April 2026

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Menakar Aroma Surealisme Puisi Penyair D. Zawawi Imron “Sungai Kecil”

    19 Mei 202660 Views

    Revolusi Kue Modern di Era Digital: dari Dapur Rumahan Menjadi Industri Kreatif Bernilai Jutaan

    18 Mei 202613 Views

    Puisi-Puisi Wyaz Ibn Sinentang

    10 Mei 202633 Views

    Dari Desa Gandoang untuk Dunia: Menjaga Makna Budaya dalam Tradisi Ngasa

    9 Mei 202632 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (81)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (190)
    • Sains (51)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (167)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (99)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.