Puisi

Puisi Kentut

Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

Puisi adalah Bahasa Rasa yang punya Rasa Bahasa. Ketika kemudian rasa tertulis sebagai rangkaian kata, maka puisi bisa menjadi panjang atau pendek.  Lalu, Rasa Bahasa dari Bahasa Rasa itu seperti apa? Tergantung pada cara ungkap dan kecerdasan sang penulisnya. A. Slamet Widodo menulis puisinya dengan gaya Glenyengan. Santai dan apa adanya. Panjangnya? Inilah Puisinya. Selamat menikmati. (Redaksi)


K E N T U T
A. Slamet Widodo

Maaf, bukannya kita mau bicara jorok
maaf, bukannya kita mau ngomong tak sopan
tapi kita mau mbahas dan ngupas kentut
dalam ilmu perkentutan secara transparan

Kentut artinya
kalau diteken
bunyi “tut”
jadi kentut

Kentut adalah suatu
yang tidak berwarna
yang tidak teraba
yang tidak terlihat tapi ada
terbukti dari bunyi dan baunya

Kentut kadang ada
kadang tak ada bunyinya
kalau bunyinya garing nyaring
pasti tidak busuk baunya
kalau tak ada bunyinya
pasti busuk baunya
kalau keras dan bau
itu baru luar biasa

Kentut itu berguna
coba tak bisa kentut
apa perut tidak kembung
perut rasanya sebah
pusing kepala dibuatnya

Kentut itu berguna lho
ketika habis operasi
adalah sebagai tanda
kapan minum boleh dimulai

Bahwa sesungguhnya kentut itu
gas dalam perut
terjadi dari proses pencernaan
gas itu keluar
lewat saluran sempit
maaf, namanya silit
jelas? …namanya apa? Silit

Karena angin lewat lubang sempit
menggetarkan membran
maka terdengarlah bunyi “tut” atau “tit”
yang tut namanya kentut
yang tit namanya kentit

Silit adalah ujung akhir
dari proses makan
letaknya tersembunyi di tengah pantat
Maaf, warnanya hitam
untuk orang yang kulitnya sawo matang
Maaf, warnanya jambon
untuk orang yang kuning langsat
tidak percaya… coba intip tetangga
kalau lagi berak di kali sana

Bila kentut itu wangi
kita perlu curigai
itu kentut siapa

Setahu saya
secantik apapun wanita
selalu bau kentutnya
makin bau kentutnya
makin cantik orangnya
makin manis orangnya
makin nyaring bunyinya

Ibu dan bapak yang gemuk
pasti pulen kentutnya
artinya kentutnya utuh
baik bau maupun bunyinya
dan enak lagunya
kalau ia cerewet
biasanya tinggi nadanya
kalau ia cerewet dan galak
delapan oktav tinggi nadanya

Awas saat pacaran
kentut mesti dijaga
bisa-bisa kamu ditolaknya
gara-gara bunyi dan baunya
bila terpaksa bunyi
sambil kentut keraskan suara
sehingga kentutmu tak kentara
pendeknya jangan ngaku

Awas kentut
jangan saat makan bersama
bila kentut sudah kebelet tahan dulu
kalau meledak dan bau
wis embuh aku nggak tahu

Bila kentut ditahan
tapi tak tertahan
bunyinya tambah nyaring
tiiiiiit. tit tit
Atau malah keluar ampasnya
maaf, namanya ‘kecerit’

‘Kecerit’ itu
sari ampas tai
lantaran kentut terlalu nafsu
atau lagi mules perutmu

Tai itu nempel di celana
kuning warnanya
kadang ada seratnya
sudah tahu bau kau cium juga

Karena jijik
kau lempar ke tetangga
nggilani!

‘Kecerit’ itu ternyata
lebih cepat dari kecepatan cahaya
Buktinya belum sempat dipikir
sudah sampai celana,

Bila orang ambeien kentut
apalagi yang sudah operasi
kontrol kentut tak teratasi
bunyinya rame
kadang seperti mitraliur
pret pret pret ampasnya katut

Bila orang Amerika kentut
ia bilang “excuse me
Bila orang Inggris kentut
ia bilang “pardon me
Bila orang Australia kentut
ia bilang “pardon me
Bila orang Indonesia kentut
ia bilang “not me not me

Kentut di pewayangan
adalah senjata Semar yang ampuh
kentut Semar bisa berwujud angin rebut
yang bisa memporak-perandakan
Semar adalah Dewa
Bila Dewa marah
kentutnya bisa
berupa tsunami
bisa berupa meletusnya gunung berapi
bisa berupa gempa bumi
maka jangan banyak dosa!

Kenapa kentut lelaki
lebih keras dari perempuan
coba tebak?
Karena lelaki ada mikrofonnya

Hidup kita seperti kentut
bau tapi kita tutupi selalu
bau sebentar hilang berlalu
Puisi ini pun seperti kentut
bau tapi membuat kita selalu rindu

Puisi kentut ini
memang terkesan kurang ajar
tapi sekali mendengar
Setiap kentut selalu tak terlupakan
tertawa sekarang itu mahal
Setiap tertawa menambah umur kita
Sebuah puisi kentut
menambah umur kita

Jakarta, 15 Mei 2005

 

 

Aloysius Slamet Widodo, Wiraswastawan yang tak pernah belajar sastra tapi tak pernah henti menulis puisi. Lahir di Solo, 29 Februari 1952.  Tahun 2009 mendapat 2 Penghargaan, World Bank’s Program on The Social Dimension of Climate Change Vulnerability expose Micro Documentary Fiml Contest 2009 dan Asia Oceanea New Comer Award 2009 (Japan Wildlive Film Festival). Dalam kurun waktu tahun 2004-2013, sebanyak 7 buku kumpulan puisi ia tulis.  Potret Wajah Kita (2004), Bernafas Dalam Resesi (2005), Kentut (2006), Selingkuh (2007), Simpenan (2009), Namaku Indonesia-Kumpulan Puisi untuk Anak (2012), dan Ijab Kibul-Kumpulan Puisi Glenyengan (2013).

 

Leave a Comment