Tradisi

Mitos Gagal Menikah

Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

MITOS GAGAL NIKAH

Sederhananya, apa yang disebut dengan mitos adalah cerita aneh yang tak masuk akal dan sulit dipahami maknanya atau sulit diterima kebenarannya oleh akal sehat, namun oleh segolongan masyarakat masih saja dipercayai kebenarannya. Dalam budaya Jawa banyak sekali mitos-mitos yang sampai sekarang ini masih dipercaya kebenarannya sehingga apabila melanggarnya kita akan kualat dan menerima akibatnya. Misalnya, anak perempuan dilarang duduk di depan pintu, nanti terhalang jodohnya. Kalau makan harus bersih jangan sampai ada sisa. Kalau tidak, nanti akan dapat suami brewokan. He he… ada-ada saja.

Tak hanya mitos duduk di depan pintu saja yang bisa bikin sulit jodoh seseorang. Ada lagi yang lain, yaitu : jangan pernah memberi sapu tangan pada kekasih! Nanti bisa cepat putus! Waw, yang mboten-mboten aja. Selanjutnya ada juga mitos yang sampai saat masih melekat pada orang Jawa, yaitu : Jangan pilih-pilih tebu nanti dapet yang bongkeng (tak bagus atau tak sempurna)). Maksudnya ketika kita dihadapkan pada beberapa pilihan tentu akan banyak pertimbangan yang akhirnya membanding-bandingkan. Terlalu banyak membanding-bandingkan bisa jadi apa yang kemudian kita pilih adalah bukan apa yang kita inginkan tapi seperti tebu (jodoh) yang Bongkeng yang mengisyaratkan ketidak sempurnaan.

Nah, berikut ini ada 5 Mitos yang bisa bikin Gagal Nikah. Simak baik-baik, ya. Tapi jangan langsung percaya, jadikan ini sebagai sekedar pengetahuan saja. Syukur-syukur bisa diambil hikmahnya..


  • Omah madep Ngalor

Omah madep ngalor, artinya rumah yang menghadap ke utara. Rumah yang menghadap ke utara dianggap tidak baik, tidak membawa keberuntungan. Karena itu anak perempuan jangan memilih jodoh atau menikah dengan calon suami yang rumahnya menghadap ke utara.  Jika pernikahan tetap dilakukan maka akan terjadi hal-hal yang bisa menganggu keharmonisan rumah tangga yang kemudian bisa menimbulkan pertengkaran-pertengkaran, dan akhirnya bisa menyebabkan perkawinan bubar.

  • Posisi rumah saling berhadapan

Posisi rumah calon pasangan lelaki dan perempuan yang saling berhadapan bisa membuat mereka gagal melangsungkan pernikahan. Bagi masyarakat yang memercayai mitos rumah pasangan yang saling berhadapan dipercaya bahwa hal ini bisa mendatangkan berbagai macam masalah apabila pernikahan tetap dilangsungkan. Apabila pasangan tetap akan melangsungkan pernikahan, maka salah satu rumah dari calon mempelai harus direnovasi sedemikian rupa agar posisi rumah mereka tidak saling berhadapan.

  • Weton jodoh

Weton atau hari lahir berdasarkan kalender Jawa, juga dipercaya bisa membuat seseorang gagal menikah. Ada beberapa weton yang dianggap cocok atau berjodoh dan juga yang tidak cocok dalam perjodohan calon pasangan. Menurut kepercayaan, jika seseorang yang akan menikah dengan pasangannya yang wetonnya tidak cocok, maka rumah tangga mereka tidak akan bisa berjalan sesuai dengan harapan.

  • Pernikahan Jilu (siji karo telu)

Siji karo telu dalam bahasa Jawa artinya satu dengan tiga. Pernikahan Jilu maksudnya adalah pernikahan antara anak pertama dengan anak ketiga. Banyak yang percaya, jika pernikahan tetap dilangsungkan akan mendatangkan banyak cobaan, karena perbedaan karakter antara anak pertama dan anak ketiga. Jika pernikahan tetap dilangsungkan, maka di tengah perjalanan perkawinan akan menemui kesialan. Angka 1 dan angka 3 bila digabung menjadi angka 13. Angka yang dianggap sebagai angka sial..

  • Menikah di bulan Syuro (Muharram)

Masyarakat Jawa percaya bahwa bulan Syuro atau bulan Muharram adalah bulan yang keramat. Oleh karena itu sangat dilarang untuk menggelar acara pesta, seperti misalnya pernikahan pada bulan tersebut. Jika pernikahan tetap dilangsungkan, maka rumah tangga dalam pernikahan tersebut tidak akan bahagia tapi akan mendapatkan malapetaka.

Demikianlah hal-hal tabu yang tak boleh dilanggar (mitos) yang masih dipercaya di sebagian masyarakat kita, terutama masyarakat Jawa. Boleh percaya boleh tidak. Yang pasti, sebagai umat beragama, kita selalu meyakini bahwa baik atau buruk yang terjadi pada diri kita itu semata karena kehendak atau atas ijin Allah yang Maha Kuasa.  (AY)

Leave a Comment