Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Kau Tak Ada, Mey
    Puisi

    Kau Tak Ada, Mey

    7 Maret 2021Tidak ada komentar4 Mins Read94 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Daffa Randai, begitulah nama pembesut Puisi puisi kali ini, lahir tahun 1996 di  Srimulyo, Madang Suku II, Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan. Meskipun dia mengaku bergiat di Komunitas Pura-Pura Penyair sekaligus sebagai Presidennya, sejatinya dia seorang Penyair tulen. Hal ini terpindai dari pernik-pernik cahaya kata-kata sebagai ciri  khas seorang Penyair. Sebut saja di Puisinya  /Kau Tak ada, Mey/ malam itu kau tak ada, mey/. Betapa sang Penyair pandai mempermainkan pembaca, bahkan mungkin akan bisa membuat sang penafsir akan bertanya tanya apa bedanya kata Mey di judul berhuruf kapital dengan kata mey di bait puisi berhuruf kecil. Perbedaan ungkapan huruf besar dan kecil ini mengingatkan pada semacam kepercayaan umum bahwa di setiap jiwa Penyair selalu terselip jiwa “Gila” atau malah saking cerdasnya mampu memadukan cita rasa paradoks antara rasa dan logika, sehingga segalanya diserahkan pada pembaca. Selamat menikmati puisi puisinya. Silakan. (redaksi).

    Kau Tak Ada, Mey

    malam itu kau tak ada, mey.
    aku mengetuk pintu rumahmu
    seperti berkunjung ke ruang luka.

    dari jendela tanpa kaca
    seperti kusaksikan seorang lelaki
    mengiris air matanya sendiri.

    malam itu kau tak ada, mey.
    iakah kau ketiadaan yang kucari?

    Kita Telah Berpisah, Mey (4)

    kita telah berpisah, mey.
    tahulah kau, setiap kupetik gitar
    dadaku kembali nyeri
    dan memar.

    seperti malin, aku mungkin
    sempurna dalam kutukan:
    tak bisa bergerak dari cinta
    yang telah batu sejak semula.

    kita telah berpisah, mey.
    berbahagiakah kita
    dengan air mata
    yang tak putus alirnya?

    memang, kita memiliki
    seribu alasan untuk bersedih.
    tetapi, mampukah kita
    segera pulih dari luka
    sejak tak saling peluk
    bahkan dalam doa?

    Kita Telah Berpisah, Mey (5)

    kita telah berpisah, mey.
    itulah kedukaan kubra
    yang tak berhasil kucekal.

    padahal dulu, seperti rendra
    aku pernah ingin mendongeng
    dengan terus mengulang
    pengakuan: kau segalanya!
    yang tak ada padaku
    yang aku butuh.

    suatu hari, kita tak lagi bisa
    pergi berkunjung ke doa
    demi menabung harap
    bisa seatap berdua.

    sebab, kita telah berpisah, mey.
    bukankah mengupas
    bekas luka selalu
    lebih mengerikan
    dari luka itu sendiri?

    2020

    Kita Telah Berpisah, Mey (6)

    kita telah berpisah, mey.
    suatu hari, bagaimana jika
    kita kembali gagal mencintai
    diri kita sendiri?

    atau kita akan kembali
    saling mencintai
    segala yang tak lagi
    benar-benar kita miliki?

    betapa kita betah terjaga
    di hidup yang penuh bahaya.
    sempurna kita dalam duka
    dalam dunia penuh air mata.

    suatu hari, mey, akankah kita
    bisa saling memeluk
    ingatan kita masing-masing
    tanpa sempat saling curiga
    rangkaian kelukaan ini
    milik siapa?

    2020

    Kita Telah Berpisah, Mey (7)

    kita telah berpisah, mey.
    suatu hari, kita mungkin
    akan berhasil saling melupakan.

    kepala kita akan tandus
    dari segala kisah
    yang pernah begitu
    kita miliki sebelum pisah.

    mungkinkah hari baru
    setelah haru ialah sukacita
    yang pantas kita rayakan?

    mungkin benar begitu, mey.
    tapi bukankah kebenaran juga
    bisa berangkat dari kekeliruan
    yang terus diulang?

    seperti pernyataan: aku mencintaimu
    dalam seribu masa kehidupan
    yang terus kuungkap tanpa pernah
    kau percayai kesungguhannya.

    2020

    Jangan Sambut Pulangku

    suatu hari, jangan sambut pulangku
    sebab tak lagi ada kecupan
    yang bakal kering di kening
    untuk bekal tidur seorang lelaki
    yang hatinya tak layak huni.

    katakan, katakan segera
    ke mana harap akan bermuara
    ketika tubuh yang kau butuh
    tak lagi utuh untuk dipeluk?

    suatu hari, mungkin tak akan ada
    kepulangan menuju luka yang sama.

    katakan, apakah kau akan peduli
    melihat aku tenggelam bahkan
    oleh air mata yang kuperas sendiri?

    suatu hari, jangan sambut pulangku
    sebab tak akan ada kepulangan
    menuju satu orang yang sama
    demi mengulang keperihan lain
    yang lebih parah.

    2020

    Daffa Randai, lahir di Srimulyo, Madang Suku II, Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan pada 22 November 1996. Alumnus mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta, konsentrasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Presiden komunitas Pura-Pura Penyair. Buku tunggal perdana: Rumah Kecil di Kepalamu (Purata Publishing, 2018). Beberapa puisinya terbit di buku antologi bersama, media cetak dan online. E-mail: randaidaffa22@gmail.com, Instagram: @randaidaffa96,

    komunitas pura-pura penyair penyair palembang puisi-puisi cinta
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleDayana dan Netizen Indonesia
    Next Article Pak Miun Gila

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025

    Puisi-Puisi Riki Utomo

    21 September 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202686 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202540 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202543 Views

    Perbandingan Film Animal Farm (1954) dan Animal Farm (1999): Kajian Adaptasi dan Alih Wahana

    18 Desember 202529 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (142)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.