Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Puisi » Ingin Menambal Telinga
    Puisi

    Ingin Menambal Telinga

    28 Februari 2022Updated:3 Maret 2022Tidak ada komentar3 Mins Read74 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Puisi pencarian, itulah yang bisa terpindai dari sajak sajak besutan Penyair muda Agus Sanjaya yang terpampang kali ini. Seperti seorang penyelidik yang berusaha membuka misteri demi misteri kehidupan sehari hari kemudian dipotret menjadi tiga puisi berjudul /Ingin Menambal Telinga/, /Bapak Tua/, dan /Selesa Desa/.

    Puisi /Ingin Menambal Telinga/ mengisyaratkan semacam usaha agar pencarian sang Penyair menjadi cepat ditemukan, dan bisa segera melanjutkan pencarian berikutnya meski pun misalnya sekedar untuk menutup kebutuhan biaya pendidikan anak dari tokoh lirik bapak, ibu, atau pun aku lirik.

    Puisi ke dua /Bapak Tua/ masih seputar pencarian makna kehidupan yang juga berhasil dipotret menjadi puisi dengan diksi yang relatif berani berpadu padan dengan gaya milenial kekinian yang cenderung bisa mengungkapkan kata apa adanya, hampir tanpa basa basi, cukup dengan metafora lugas lugas saja semacam
    /seperti rumpun kedelai tua yang tak beranjak besar/.

    Pada puisi /Selesa Desa/ ada aroma seakan Penyair mulai mengendapkan pencarian dan menemukan kelegaan atau semacam ekspresi damai setelah sekian langkah pencarian, dan berujung pada
    /”kami makan singkong bakar,
    sambil bercengkrama riang.”/.

    Mari bercengkrama bersama sambil menikmati puisi. Silakan…

    Ingin Menambal Telinga

    mentari masih menyipit
    tapi aku sudah berburu birit
    jarum jam telah menggertak
    untuk segera berdandan necis

    makanan hanya singgah sementara
    di perutku yang kian datar
    seperti kebijakan-kebijakan gusar
    tak pernah henti berkabar

    keringatku dan orang-orang purba itu meluap
    tak henti berteriak kemakmuran
    pada tahun semakin beranak pinak
    dinahkodai stakeholder kesetanan

    sementara itu
    anak-anakku menggigiti bangku pendidikan
    untuk sekadar mendapat kesempatan
    padahal uang pokok sudah jarang dibayarkan

    kembali kulihat
    pertikaian dalam kedaulatan
    antara bapak ibu yang semakin senja
    dengan tuan penyihir; sang penguasa kota
    hingga dunia penuh kehancuran

    aku ingin menambal telinga
    agar tak mendengar lagi
    senandung protes di mana-mana
    seperti yang Tuanku lakukan
    berpura-pura tuli pada kemanusiaan

    20/2/2022

    Bapak Tua

    kujumpai bapak tua
    di perempatan jalan
    tengah menjual kebingungan
    tentang batu kerikilnya
    yang ludes di pasaran

    meski kerap kali
    batu itu terisi di sakunya
    berulang kali juga
    menggelinding jatuh di jalan
    menuju arah rumahnya

    seolah kesialan seperti angin
    berembus datang tak diundang
    bapak terpeleset genangan
    yang menambah licin hujan
    dan rabunnya malam

    setelah sampai beranda rumah
    bapak tertimpa pepohonan
    nasib tak pernah memihaknya
    seperti rumpun kedelai tua
    yang tak beranjak besar

    21/2/2022

    Selesa Desa

    pagi mengerjapkan mata
    petani sudah melukis gunung
    berdiri sejajar di tepian
    mengenakan penutup kepala

    padipadi adalah gembala
    ditinggal menjelang petang
    untuk sekadar rehat sejenak
    seharian bermain tanda

    kesejukan mengunjungi malam
    bertanya adanya kehangatan
    petani pun menjawabnya
    “kami berlutut di perapian,
    lalu menyeruput kopi hitam.”

    saat sepi mulai menyergap
    bertanya adanya keseruan
    mereka pun menjawabnya
    “kami makan singkong bakar,
    sambil bercengkrama riang.”

    21/2/2022

    Agus Sanjaya lahir di Jombang, 27 Agustus 2000. Buku pertamanya berjudul Akar Kuning Nenek, serta ke duanya berjudul Lima Sekawan terbit tahun 2020. Saat ini ia tengah sibuk kuliah, menimba ilmu di COMPETER Indonesia dan Kelas Puisi Bekasi (KPB). Karya-karyanya banyak terangkum di antologi bersama, juga di media online.

    Puisi Cinta puisi kehidupan puisi sastra
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleSendang Seruni Tempat Mandi Bidadari di Banyuwangi
    Next Article Nulis Bareng Kisah Para Nabi

    Postingan Terkait

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 2025

    Puisi-Puisi Amanda Amalia Putri

    30 November 2025

    Puisi-Puisi Riki Utomo

    21 September 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202686 Views

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 202540 Views

    Puisi-Puisi En. Aang MZ

    21 Desember 202543 Views

    Perbandingan Film Animal Farm (1954) dan Animal Farm (1999): Kajian Adaptasi dan Alih Wahana

    18 Desember 202528 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (206)
    • Bisnis (7)
    • Buku (83)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (142)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.