Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Cerpen » Gadis Dalam Cermin
    Cerpen

    Gadis Dalam Cermin

    6 Oktober 2019Updated:24 Oktober 2021Tidak ada komentar3 Mins Read57 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    Gadis Dalam Cermin

    Nani Mustikasari

    Malam telah lewati separuh perjalanannya. Dingin menyusup dari kisi jendela menyentuh kuduk dan membuatku terbangun. Seraut wajah cantik menatap dari cermin meja rias di sudut kamar. Aku kenal wajah itu. Selalu berhias senyum. Kerap menatapku dengan mata berbinar ceria. Wajah itu mencoba tersenyum padaku. Senyum yang manis, mestinya. Tapi, itu senyuman luka. Sepasang mata telaga itu bergolak dalam kepedihan yang dalam. Butiran air mata darah mengalir. Merah.

    “Jangan menangis cantik,” lirih aku berucap.

    Ingin sekali kuusap air mata itu. Kuulurkan tangan, dan astaga … lenganku menembus cermin ini, aku dapat menyentuh pipinya.

    “Jangan menangis, sayang. Aku tak sanggup melihatmu menangis.” Kembali aku berucap.

    Perlahan kubelai pipi kapas itu, dingin. Tak terasa tubuhku terhisap masuk ke dalam cermin, aku dapat memeluknya erat.

    “Mengapa kau kejam padaku? Mengapa kau selalu membuatku menangis? Kau membunuhku perlahan-lahan dari waktu ke waktu.” Ucapnya dengan isak tangis.

    “Apa maksudku? Kamu bagian dari diriku. Aku menyayangimu, menjagamu sepenuh hatiku. Bukankah kamu adalah hati kecilku? Aku mendengarkanmu.” Lembut kujawab, meskipun hatiku terkejut akan ucapannya tadi.

    “Tidak seperti itu. Kau tak pernah memperdulikanku.” Gadis cantik ini melepaskan diri dari pelukanku. Ia menatapku tajam dan ia berkata lagi.

    “Kau membunuh keinginan, cinta dan kerinduan-kerinduanku. Kau lebih memperhatikan kebahagiaan orang-orang yang mencintaimu dan memilih mengabaikanku berpuluh tahun. Selalu kau mengalahkan suara yang kuteriakkan di telingamu dan patuh pada suara-suara yang berputar di otakmu.”

    Wajah pucatnya menatapku penuh kemarahan. Sepasang lengan berkulit bening itu terulur, mencekikku. Aku tak mau melawan, hanya menatap wajahnya dalam-dalam dengan pandangan tajam—dan berharap ia mengerti. Aku hampir tak bisa bernapas ketika ia akhirnya melepaskan tangannya dari leherku.

    “Mengapa berhenti? Bukankah kamu ingin membunuhku? Aku tahu kamu sering merasa diabaikan, tetapi itu untuk kebaikanmu. Aku ingin kamu tetap jadi gadis cantik berhati lembut, bukan monster jahat. Setiap keinginanmu kuturuti maka akan selalu ada keinginan lain yang lebih besar. Tak semua keinginanmu baik. Aku ingin memuliakanmu, maka aku menggunakan tuntunan Tuhanku untuk memilah suara yang kamu dengungkan di telinga. Semoga kamu mengerti.” Ucapku.

    Ia diam tak menjawab. Namun pandangan matanya tak setajam tadi. Kuusap rambut hitam panjang itu, kukecup keningnya. Ia berkata dengan suara perlahan.

    “Suatu saat aku harus pulang. Apa aku akan tetap seperti ini saat aku pulang nanti.”

    “Akan kupastikan begitu. Semua yang kulakukan adalah untukmu, agar kau tetap cantik, murni dan mulia seperti bidadari. Meskipun ketika engkau pulang nanti aku tak bisa menyertaimu karena aku akan beristirahat di antara kumpulan humus dan tanah.” Senyumku mengembang dan kita saling pandang.

    Ia kemudian memelukku dengan tubuhnya yang kini hangat. Lirih ia berkata.

    “Benarkah aku akan pulang sendiri nantinya? Bagaimana denganmu? Mengapa harus beristirahat di pelukan bumi?”

    “Aku cuma tubuh kasar. Tak mungkin bisa mengikutimu ke alam yang berbeda. Jangan khawatir. Perhatikan aku baik-baik. Katakan apa yang kau lihat pada diriku.”

    “Engkau wanita baik, manis dan lembut dengan kebahagiaan terpancar di binar mata. Engkau memiliki segalanya yang diinginkan seorang wanita.” Ia mengerjapkan mata kemudian paras ayu itu tersenyum. Perlahan ia mengusap wajahku dan tiba-tiba kurasakan kantuk yang luar biasa. Aku tertidur dan tak ingat apa-apa lagi.

    Pagi itu aku terbangun di ranjangku yang hangat. Dan di sudut kamar masih ada cermin meja riasku yang memantulkan bayangan wanita dengan senyum ceria dan mata berbinar indah, selalu.

    Cilandak, 20 Januari 2012.

    *cerpen ini telah dimuat dalam buku ‘Gadis Dalam Cermin’ tahun 2012.

    Nani Mustikasari dengan tiga putra yang kelahiran Jakarta 9 November 1970 ini menyeslesaikan pendidikan akhir di Pascasarjana Ilmu Ekonomi FEUI 2006. Selain menjadi dosen, menulis adalah kegemarannya.

    cerpen cinta cerpen kehidupan cerpen keluarga
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticleHujan Berkisah
    Next Article Dolanan Cublak-Cublak Suweng

    Postingan Terkait

    Kisah Seorang Polisi di Republik Mimpi

    21 Desember 2025

    Rumah Balian

    30 November 2025

    Mengajak Ke Galaksi Imajinasi

    26 November 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Menolak Pudar: Jejak Keindahan “Situ Lengkong Panjalu” Yang Tak Lekang Oleh Waktu

    18 April 20267 Views

    Pas Lebaran 2026, Reuni SDN Jajag Lor Kali, Juga Oke…

    18 April 202661 Views

    Harga Sebuah Kicauan: Sebuah Narasi Narsisme Antroposentris

    18 April 202630 Views

    Muara Jambu Ciater Tempat Wisata dan Camping

    13 April 202613 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (209)
    • Bisnis (7)
    • Buku (85)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (79)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (189)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (155)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.