Dongeng

Dongeng Jaka Kendhil

Dongeng Anak Nusantara
Jangan Lupa Di Rate Ya!
Tinggal Pilih Bintang Saja!

Jaka Kendhil

Diceritakan kembali oleh Abah Yoyok

Diceritakan oleh yang punya cerita, bahwa pada jaman dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Ambar Arum yang diperintah oleh raja Asmawikana. Sang raja punya seorang permaisuri dan seorang selir bernama Dewi Dursilawati. Siang dan malam sang Raja selalu duduk termenung dengan hati gundah gulana, lantaran belum juga punya seorang putra yang kelak akan menjadi pewaris tahta kerajaan Ambar Arum.

Sebenarnya, sang permaisuri sudah dua kali mengandung, akan tetapi dua kali itu juga keguguran. Penyebab adalah karena ulah Dewi Dursilawati yang iri hati kepadanya. Secara diam-diam, selir yang jahat itu telah mencampurkan racun ke dalam makanan dan minuman sang Permaisuri. Dewi Dursilawati melakukan hal itu karena ia menginginkan agar sang putra yang lahir dari rahimnya sendiri akan bisa menggantikan kedudukan Raja Asmawikana kelak di kemudian hari.

Sepintar-pintarnya Dewi Dursilawati menyimpan perbuatan jahatnya, sang Raja lama-lama berasa juga. Pada suatu senja, ketika ia sedang asyik duduk termenung di kursi Gading Dampal Kencana, tiba-tiba muncul rasa curiga pada selirnya, Dewi Dursilawati.

“Sudah dua kali permaisuriku keguguran. Jangan-jangan ini karena ulah Dewi Dursilawati yang telah mencampurkan racun ke dalam makanan Permaisuriku,” pikirnya. Maka sejak saat itu raja Asmawikana selalu memperhatikan kesehatan sang Permaisuri, terutama dalam urusan makan dan minumnya. Ketika sang Permaisuri mengandung untuk yang ketiga kalinya, raja memerintahkan kepada para dayang istana agar memeriksa dengan teliti setiap makanan dan minuman yang akan dihidangkan, dan mengawasi ketika sang Permaisuri makan.

“Wahai, Dayang-dayangku! Ingat, jangan biarkan permaisuriku makan dan minum tanpa sepengetahuan kalian. Kalian harus memeriksa dengan teliti dan hati-hati  semua hidangan yang akan disantapnya!” Demikian perintah Raja Asmawikana kepada para dayangnya.

“Baik, Baginda!” jawab dayang-dayang serentak.

Sejak itu, segala kebutuhan makanan dan minuman Permaisuri selalu dalam pengawasan para dayang-dayang. Dengan demikian, Dewi Dursilawati tidak dapat lagi meracuni Permaisuri. Akan tetapi, selir raja yang licik itu tidak kehabisan akal. Ia pergi ke seorang Dukun Sihir untuk minta bantuan agar menyihir bayi yang ada di dalam kandungan sang Permaisuri.

“Hai, Nenek Dukun! Aku mohon bantuanmu! Sihirlah bayi yang ada di dalam kandungan sang Permaisuri supaya menjadi cacat!” pinta Dewi Dursilawati.

Karena dibayar mahal, Nenek Sihir itu bersedia mengabulkan permintaan Dewi Dursilawati. Begitu kandungan Prameswari berusia sembilan bulan, dukun itu menyihir bayi dalam kandungan yang tak berdosa itu. Tak berapa lama kemudian, sang Permaisuri melahirkan seorang anak laki-laki. Alangkah terkejutnya keluarga istana, terutama Raja Asmawikana, ketika melihat putranya lahir dalam keadaan cacat, yaitu kepalanya berbentuk kendhil, panci yang terbuah dari tanah. Raja dan Permaisuri sangat sedih melihat keadaan putra mereka. Sang Permaisuri menangis siang dan malam. Meski demikian, mereka tetap menerima keadaan itu dengan lapang dada. Bayi yang diberi nama Jaka Kendhil itu mereka rawat dengan penuh kasih sayang.

Namun, Raja Asmawikana tidak ingin melihat putranya cacat seumur hidup. Ia pun segera memerintahkan pengawalnya untuk memanggil seorang pertapa yang terkenal sakti mandragunauntuk melihat keadaan putranya. Ketika kemudian sang Pertapa Sakti datang menghadap ke istana, ia bertanya:

“Ampun, Gusti! Apa yang bisa hamba bantu?” tanya pertapa itu sambil memberi hormat. Raja Asmawikana lalu menceritakan perihal keadaan putranya yang lahir dalam keadaan cacat itu.

“Wahai, Pertapa! Apakah kamu mengetahui sebab dari penyakit yang diderita putraku? Apakah penyakitnya masih bisa disembuhkan?” tanya Raja Asmawikana dengan perasaan haru.

“Ampun, Gusti! Menurut pengetahuan hamba, putra paduka terkena sihir. Saran hamba, sebaiknya paduka menitipkan putra paduka kepada seorang nenek yang bernama Mbok Rondho. Ia tinggal di pinggir sungai di wilayah perbatasan kerajaan paduka. Tepatnya di desa Kasiman. Kelak pada suatu hari nanti, putra paduka yang cacat ini akan menjadi kesatria setelah menikah dengan seorang putri raja,” ramal pertapa itu.

“Terima kasih atas bantuanmu, Pertapa!” ucap Raja Asmawikana.

Setelah mendapat saran dari sang pertapa, Raja Asmawikana segera mengirim utusan untuk menitipkan putranya kepada Mbok Rondho di desa Kasiman. Ia juga memerintahkan beberapa pengawalnya yang lain untuk menangkap dukun yang telah menyihir putranya untuk dihukum pancung. Namun sayang, dukun itu telah kabur dari rumahnya untuk menyelamatkan diri. Rupanya, Dewi Dursilawati telah memberitahu perihal penangkapan itu kepada si nenek Sihir.

***

Singkat cerita, para utusan raja telah sampai di rumah Mbok Rondho di desa Kasiman.untuk menyerahkan Jaka Kendhil.

“Mbok Rondho! Kami adalah utusan Raja Asmawikana. Kanjeng Gusti memerintahkan kami untuk menitipkan putranya kepada Mbok Rondho. Sebagai ucapan terima kasih, Kanjeng Gusti juga menitipkan emas, intan, dan permata untuk bekal hidup Mbok bersama Jaka Kendhil,” pesan salah seorang utusan.

Mbok Rondho pun menerima Jaka Kendhil dengan senang hati. Ia berjanji akan merawat dan membesarkan Jaka Kendhil dengang penuh kasih sayang. Sejak itu, Jaka Kendhil berada di bawah asuhan Mbok Rondho. Ketika Jaka Kendhil berangkat dewasa, Mbok Rondho sering mengajaknya ke pasar dan ke ladang. Jaka Kendhil adalah anak yang rajin, baik hati, dan suka membantu orang yang sedang kesusahan. Tak heran, jika semua orang sayang kepadanya.

Seiring jalannya waktu. Jaka Kendhil tumbuh menjadi pemuda dewasa. Ia semakin rajin membantu ibu angkatnya bekerja di ladang. Ia juga suka membantu masyarakat di sekitarnya yang membutuhkan tenaganya.

***

Dongeng Anak Indonesia

Alkisah pada suatu hari, raja dari Negeri Sebrang bersama rombongannya sedang tamasya menyusuri tepi sungai di Dusun Kasihan dekat dengan di mana Mbok Rondho dan Jaka Kendhil tinggal. Dalam rombongan tersebut ikut serta pula permaisuri dan putrinya yang jelita bernama Putri Ngapunten. Masyarakat desa Kasiman berbondong-bondong untuk melihat rombongan raja yang sedang tamasya tersebut. Tak terkecuali Jaka Kendhil dan Mbok Rondho.

Ketika pertama kali melihat kecantikan Putri Ngapunten, Jaka Kendhil pun langsung jatuh hati. Bahkan, di sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya, wajah cantik Putri Ngapunten selalu terbayang-bayang di pelupuk matanya.  Ia benar-benar telah jatuh hati kepada Putri Ngapunten dan berniat untuk meminangnya. Sesampainya di rumah niatnya itu ia sampaikan kepada ibu angkatnya.

“Ibu,  Jaka jatuh hati kepada putri raja dari Negeri Sebrang itu. Maukah Ibu melamarnya untukku?” pinta Jaka Kendhil.

Mbok Rondho kaget mendengar permintaan putra angkatnya itu. “Ah, kamu  jangan meminta yang aneh-aneh, anakku. Mana mungkin Raja Negeri Sebrang itu akan menerima pinanganmu dengan keadaanmu seperti ini. Apalagi dia itu putri raja satu-satunya. Sudahlah, lupakan saja niatmu itu, anakku, ” kata Mbok Rondho menasehati Jaka Kendhil.

“Tidak, Bu! Apa salahnya kalau ibu mencobanya dulu,” desak Jaka Kendhil.

Awalnya, Mbok Rondho menolak untuk memenuhi permintaan Jaka Kendhil. Karena terus didesak, akhirnya ia pun menyerah dan bersedia untuk memenuhi permintaan anak kesayangannya itu. Mbok Rondho segera berangkat ke istana untuk menyampaikan niat Jaka Kendhil kepada Raja Asmawikana.

Penguasa Kerajaan Ambar Arum yang bijaksana itu pun menyetujui setelah mendengarkan apa yang disampaikan oleh Mbok Rondho tentang niat putranya itu. “Baiklah, Mbok Rondho. Aku merestui putraku menikah dengan Putri Ngapunten. Tapi, aku mohon agar kiranya Mbok Rondho yang datang ke Kerajaan Sberang untuk meminang putri raja itu. Aku akan menyiapkan segala keperluan pinangan, dan mengutus beberapa pengawalku untuk mendampingimu ke sana,” pinta Raja Asmawikana. Mbok Rondho tak kuasa untuk menolak permintaan Raja Asmawikana. Maka, pada hari yang telah ditentukan, Mbok Rondo bersama utusan raja pun berangkat ke Kerajaan Sebrang dengan membawa perhiasan emas dan intan permata untuk dipersembahkan kepada Putri Ngapunten.

Sebelum Mbok Rondho berangkat ke Kerajaan Sebrang, pada malam harinya Jaka Kendhil berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar kiranya pinangannya dapat diterima. Agaknya Tuhan mengabulkan permohonan Jaka Kendhil. Pada malam hari itu juga raja Negri Sebrang dibuka hatinya melalui mimpi. Dalam mimpinya itu raja kejatuhan sebuah Kendhil. Dan ajaibnya, ketika kendhil tersebut diberikan kepada putrinya, tiba-tiba kendhil berubah menjadi seorang kesatria yang gagah, tampan dan menawan. Dalam hati sang raja, ia berharap kalau mimpinya tersebut bisa menjadi kenyataan. Karena itulah ketika Mbok Rndho bersama rombongannya datang meminang putrinya, langsung ia terima. Alhamdulillah.


“Pinangan Jaka Kendhil saya terima. Kembalilah ke negeri kalian untuk menyampaikan berita gembira ini kepada Raja Asmawikana. Sampaikan kepadanya bahwa pesta pernikahan Jaka Kendhil dengan putriku akan dilaksanakan secepatnya” seru Raja Negeri Seberang.

“Terimaksih, Gusti!” ucap Mbok Rondho dengan senang hati.

Mbok Rondho bersama utusan para raja pamit mohon diri kembali, ke istana untuk menghadap raja Asmawikana untuk menyampaikan berita gembira. Raja Asmawikana senang hatinya, segera memerintahkan seluruh pengawalnya untuk menyiapkan segala keperluan pesta pernikahan putranya.

Pada hari yang telah ditentukan, pesta pernikahan Jaka Kendhil dengan Putri Ngapunten dilangsungkan dengan meriah di istana Negeri Sebrang. Pesta dimeriahkan oleh macam-macam pertunjukan seni dan tari. Undangan datang dari berbagai penjuru negeri.

Ketika para undangan melihat Jaka Kendhil dan Putri Ngapunten duduk bersanding di pelaminan, suasana tiba-tiba menjadi gaduh. Banyak di antara mereka yang menyesali pernikahan tersebut. Kedua mempelai bukanlah pasangan yang serasi. Putri Ngapunten adalah seorang putri raja yang cantik jelita, sedangkan Jaka Kendhil adalah putra raja yang bentuk kepalanya yang sangat buruk, menyerupai kendhil.

Di tengah-tengah kegaduhan para undangan yang hadir, terjadilah peristiwa ajaib. Jaka Kendhil tiba-tiba menghilang, namun beberapa saat kemudian muncul seorang pemuda tampan gagah perkasa muncul di antara kerumunan para undangan.  Pemuda itu lalu berjalan menuju ke pelaminan dan duduk di samping Putri Ngapunten. Para undangan tersentak kaget dan heran bercampur rasa senang ketika menyaksikan peristiwa ajaib itu. Mereka baru menyadari bahwa ternyata Jaka Kendhil adalah seorang putra raja yang tampan rupawan. Pesta pernikahan pun berlanjut dalam suasana yang semakin meriah. Kini, kedua mempelai telah menjadi pasangan yang sangat serasi. Semua sama berdoa, semoga sepasang mempelai hidup bahagia dan harmonis dalam menjalani bahtera rumah tangga.

Tidak lama setelah menikah, Jaka Kendhil dinobatkan menjadi raja, menggantikan ayahanda yang usianya sudah mulai menua. Seluruh keluarga istana Ambar Arum merasa sangat bahagia, kecuali Dewi Dursilawati. Ia merasa dengki dan iri hati, karena belum juga mendapat seorang putra yang diharapkannya untuk menjadi raja. Karena perasaan dengki itu, ia berniat untuk membuat istri Jaka Kendhil celaka. Akan tetapi niat busuknya itu itu sudah diketahui oleh Raja Asmawikana melalui petunjuk dari sang Pertapa Sakti, sehingga ia gagal melaksanakannya, lalu melarikan diri masuk ke dalam hutan, karena takut mendapat hukuman. Pada saat itulah, ia terperosok masuk ke dalam jurang dan tewas seketika.

Leave a Comment