Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Mbludus.com
    • Beranda
    • Berita
    • Humaniora
      • Sosial Politik
      • Sosialita
      • Pendidikan
      • Tradisi
      • Lingkungan
    • Sains
    • Sastra
      • Cerbung
      • Cerpen
      • Dongeng
      • Drama
      • Kritik Sastra
      • Puisi
    • Kreasi
      • Bisnis
      • Musik
      • Sinematografi
    • Merchandise
      • Buku
      • Baju
      • Kerajinan Tangan
    • Lainnya
      • Profil Redaksi
      • Penerimaan Naskah Mbludus.com
    Mbludus.com
    You are at:Home » Dongeng » Cita – Cita Alif
    Dongeng

    Cita – Cita Alif

    17 Agustus 2019Updated:15 November 20191 Komentar3 Mins Read14 Views
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Share
    Facebook Twitter Telegram WhatsApp

    CITA-CITA ALIF

    Diceritakan kembali oleh Zahra Zetira

    Di desa Babakan daerah Banten, hiduplah seorang anak yatim piatu bernama Alif. Ia punya cita-cita ingin menjadi seorang dokter. Karena dengan menjadi seorang dokter, ia bisa menolong orang-orang yang sakit di desanya. Alif tinggal bersama neneknya. Setiap hari, Alif membantu neneknya berjualan singkong di pasar tradisional. Mereka berjualan mulai pukul lima pagi hingga pukul satu siang.

    Nenek selalu memberikan uang jajan kepada Alif sebagai upah membantu berdagang. Alif bukanlah seorang anak yang boros. Ia selalu menabungkan sebagian uangnya itu ke dalam celengan tanah liat miliknya. Dengan rajin menabung, ia berharap dapat bersekolah dan mencapai impiannya menjadi seorang dokter.

    [iklan]

    Suatu hari nenek Alif jatuh sakit. Ia harus membawa neneknya ke rumah sakit. Tapi ia tidak memiliki uang untuk membawa nenek berobat ke rumah sakit. Maka ia pun memecahkan celengannya dan menggunakan uang tabungannya untuk biaya pengobatan  nenek ke rumah sakit.

    Di rumah sakit, nenek diperiksa oleh dokter. Dokter meminta Alif untuk pergi ke apotik rumah sakit untuk membeli obat. Tapi  ternyata uang Alif tidak cukup untuk membeli obat nenek. Ia sangat sedih karena tak bisa menebus obat untuk nenek.

    “Hiks, hiks…” Alif menangis di bangku apotik rumah sakit. Tiba-tiba seorang dokter laki-laki menghampiri Alif yang sedang menangis.

    “Hai nak, mengapa kau menangis? Di mana orang tuamu?” tanya pak dokter.

    Alif menghentikan tangisannya, dan berbicara kepada dokter itu.

    “Aku sedih, karena tak bisa membelikan obat untuk nenekku. Sisa uangku tak cukup untuk beli obat. Aku seorang yatim piatu, pak.” Alif menceritakan kepada pak dokter, kalau dia sedang menemani sang nenek berobat di rumah sakit. Pak dokter lalu membelikan obat untuk neneknya.

    “Terimakasih, pak,” ucap Alif.

    “Sama-sama nak.” Kemudian pak dokter pergi meninggalkan Alif. Tanpa sengaja, pak dokter meninggalkan dompetnya di kantong plastik obat milik nenek Alif.

    Alif segera berlari mengejar pak dokter, “Pak dokter, tunggu! Dompet pak dokter tertinggal di kantong plastikku!” teriak Alif memanggil pak dokter agar berhenti.

    “Wah, terimakasih.  Terimalah sedikit uang ini, nak.” kata pak dokter.

    “Tidak usah, pak. Nenekku bilang, kita harus ikhlas dalam menolong seseorang,” jelas Alif.

    “Kau sungguh baik, nak. Pasti di sekolahmu, kau adalah murid yang pandai.”

    “Aku belum sekolah, pak dokter. Tapi aku sedang menabung untuk segera mendaftar sekolah. Karena aku ingin menjadi seorang dokter baik hati seperti bapak,” jawab Alif dengan tersenyum.

    “Kau belum sekolah, nak. Apa kau benar-benar ingin sekolah?” tanya pak dokter.

    “Iya, aku sangat ingin bersekolah, pak,” jawab Alif.

    Maka akhirnya Alif dapat bersekolah. Karena pak dokter yang baik hati membiayai Alif untuk sekolah, agar Alif bisa menjadi seorang dokter baik hati seperti cita-citanya.

    dongeng anak dongeng modern dongeng popular
    Share. Facebook Twitter Telegram WhatsApp
    Previous ArticlePerubahan Teknologi
    Next Article Bedah Akting

    Postingan Terkait

    Setana

    23 Januari 2025

    Legenda Batu Menangis

    13 Mei 2024

    Pohon Jati yang Lari-Lari

    23 Desember 2023

    1 Komentar

    1. Mama maya on 26 Agustus 2019 10:34 pm

      Trimakasih Zahra senang bisa baca dongeng lagi😊ingat waktu kecil dulu sebelum tidur sering didongengi alm papa ,sekrang sudah jadi mama kembali mewariskan dongeng ke anak anakku. Bagaimana dengan anak anakku nanti?…adakah budaya dongeng akan kalian wariskan ke anak anak kalian kelak?

      Reply
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Terbaru

    Puisintaksis dan Manusia Algoritma: Ketika Peluncuran Buku Menjadi Peristiwa Ontologis

    21 Februari 202687 Views

    Buku Sang Nabi

    9 Februari 202614 Views

    Hak Tubuh Istirahat

    26 Januari 202613 Views

    Zaman Apokaliptik

    4 Januari 202695 Views
    Kategori
    • Berita Terkini (207)
    • Bisnis (7)
    • Buku (84)
    • Cerbung (19)
    • Cerpen (159)
    • Dongeng (90)
    • Drama (28)
    • film (1)
    • Kritik Sastra (78)
    • Lingkungan (52)
    • Musik (18)
    • Pendidikan (66)
    • Profil Redaksi (16)
    • Puisi (188)
    • Sains (50)
    • Sinematografi (23)
    • Sosial Politik (30)
    • Sosialita (143)
    • Tak Berkategori (42)
    • Tradisi (98)
    Advertisement
    Follow Kami
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube

    Bermis Serpong ASRI Blok B7/19 RT/RW 02/04, Cisauk - Tangerang

    Untuk Pengajuan Iklan dan Kerja Sama Hubungi:

    Email : redaksi@mbludus.com / dapoertjisaoek@gmail.com
    Kontak: -

    Facebook Instagram YouTube
    Syarat dan Ketentuan
    Definisi

    Ketentuan Layanan

    Ketentuan Konten

    Penggunaan dan Hak Cipta

    Undang-Undang ITE

    Tim Redaksi

    Penerimaan Naskah
    Flag Counter
    Flag Counter

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Ad Blocker Enabled!
    Ad Blocker Enabled!
    Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please support us by disabling your Ad Blocker.